Madiun

Zona Tampungan TPA Winongo Menipis

Pertumbuhan dan kepadatan penduduk, pola konsumsi dan perilaku masyarakat, fungsi kota serta kompleksitas problem lainnya, menjadi parameter yang saling berkait dalam produksi sampah setiap hari. Tak bisa dihindari.

…………….

6,8 HEKTARE. Luasan TPA Winongo berkisaran dua kali lapangan sepak bola. Terbagi dalam tujuh zona yang lima di antaranya sudah penuh. Tinggal dua zona yang setiap harinya ditumpuki 115 ton sampah dari semua penjuru kota ini.

Di tengah keterbatasan lahan, sampah rumah tangga yang menjadi penyumbang utama langsung dikirim ke TPS tanpa melewati pemilahan terlebih dahulu. Sementara proses pengangkutan sampah dari TPS ke TPA harus disegerakan. ‘’Sehari saja tidak diangkut, bencana,’’ kata Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Heri Martono.

Ancaman overload selalu mengemuka di depan mata. Masyarakat harus dibiasakan memilah. Sampah rumah tangga tidak dibuang semua guna meringankan beban pengelolaan sedari hulu. ‘’Dari hulu, seharusnya sudah dikelola,’’ tegasnya.

Saban hari, beroperasi 15 truk dan 80 kontainer. Mengangkuti sampah dari 42 TPS menuju TPA Winongo. Terlambat sehari saja memengaruhi pemilahan dan pengelolaan di tingkat hilir. ‘’Ada metode yang kami gunakan sehingga lahan masih bertahan sampai kini,’’ ungkap Heri.

Control landfill terasering jadi acuan. Pengelolaan berlapis antara sampah, tanah, dengan terasering berbentuk piramida hingga batas ketinggian tertentu. Empat pasif dan satu aktif. ‘’Kami rotasi lima tahun sekali. Semisal sekarang piramida A yang aktif, maka lima tahun mendatang sudah pasif. Giliran piramida B yang diaktifkan,’’ urainya.

Heri meyakini banyak kelebihan yang didapatkan dengan merotasi tumpukan piramida yang ada. Salah satunya memanfaatkan empat piramida pasif menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Karena pasif, otomatis bakal ditumbuhi sabana yang menghijau serta ditanami beberapa pohon untuk menciptakan suasana asri. ‘’Ketinggian sampah akan berkurang karena terurai dengan sendirinya,’’ ujarnya.

Sejak 2013, fragmentasi sampah organik telah dikembangkan menjadi gas metan. Disumberkan dari lima piramida yang masing-masingnya ditanami pipa. Lalu, disalurkan ke permukiman warga. Dari sana, turunan inovasi serupa dikembangkan dengan mengurai sampah plastik. ‘’Untuk bahan bakar dari sampah plastik, kami mengandalkan destilasi pirolisis. Mengolahnya sebagai pengganti minyak tanah,’’ paparnya seraya menyebut inovasi lain seperti coffe metan dan sauna.

Sayangnya, energi alternatif yang dikembangkan dari pengelolaan sampah itu belum diproduksi masal. Baru sebatas pembuktian bila sampah tak dibiarkan menumpuk begitu saja. (kid/c1/fin) 

Kecil Nyala Api, Berpaling Elpiji

GUNUNGAN sampah di TPA Winongo menjadi tempat menggantungkan harapan bagi 200 kepala keluarga (KK) di lingkungan Palet dan Gembel, Kelurahan/Kecamatan Manguharjo. Selain menjadikan lahan pengais rejeki, warga pun tak perlu lagi menggunakan elpiji untuk keperluan rumah tangga sehari-hari. Sejak 2014, pemilahan sampah dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas metan.

Meski tak dipungut biaya, warga wajib menanggung jika terjadi kerusakan pipa penyalur dari TPA. Membiayai atau memperbaikinya secara swadaya. Besar-kecil energi yang dapat dimanfaatkan bergantung dari skala fragmentasi sampah yang diolah.  ‘’Jika musim penghujan, nyalanya besar. Pas kemarau seperti sekarang ini, terkadang nggak nyala,’’ kata Tuminem, warga setempat.

Energi yang tidak stabil itu membuat Tuminem berpaling. Untuk masak sehari-hari, kini dia pilih kembali memanfaatkan tabung elpiji melon (3 kilogram). Kendati saat mulai merintis inovasi energi terbarukan 2014 silam, dia telah membeli 18 batang pipa paralon. ‘’Saya manfaatkan untuk rumah dan warung di pinggir ring road,’’ ujarnya.

Awalnya dia tidak mengeluh lantaran uang pengeluaran untuk beli tabung gas dapat ditabung. Menghemat empat tabung sebulan. Sayangnya, kebiasaan positif itu terhenti tiga bulan terakhir. ‘’Ketika itu ada pembeli minta kopi, ternyata tidak nyala. Menunggu lama, akhirnya saya ganti elpiji lagi,’’ tuturnya.

Kendala itu dirasakan saat energi alternatif itu mulai dikembangkan ke lingkungan Palet. Dia berharap dapat merasakan gas metan itu meskipun usaha warungnya tutup sejak 2017 lalu lantaran harus mengurus cucunya. ‘’Di rumah sebenarnya bisa dinyalakan lagi. Tapi, harus ganti gas (elpiji) terus lepas lagi. Itu yang menyusahkan,’’ ungkapnya.

Kesulitan serupa dirasakan Riyono. Warga setempat yang juga buka warung itu juga memilih menggunakan gas elpiji saat pagi hingga sore. Gas metan baru digunakan saat malam. Dengan begitu, setidaknya dia bisa menghemat penggunaan elpiji dari sebelumnya dua menjadi satu tabung saja. ‘’Saya siasati seperti itu,’’ katanya. Sisa pengeluaran membeli gas elpiji dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan lain. ‘’Sudah membantu sekali. Semoga bisa lebih stabil lagi,’’ imbuh Riyono.

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Heri Martono menjelaskan, di musim penghujan kandungan metan dari sampah organik meningkat drastis. Curah hujan dan suhu memengaruhi besar-kecil energi yang dihasilkan dari gas metan. ‘’Memang saat kemarau agak kecil. Apalagi penggunanya bertambah banyak,’’ katanya. (kid/c1/fin)

Kejar Adipura Kencana dan Jaring Investasi

PEMKOT Madiun 14 kali berturut-turut meraih Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun, belum sekali pun meraih Adipura Kencana. Sehingga, perlu evaluasi untuk memperbaiki prestasi. ‘’Agar tidak stagnan harus ada peningkatan. Harus terus dipacu, karena kompetitor semakin kuat. Indikator penilaian juga semakin meningkat,’’ kata Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Madiun Rina Haryati.

Sentilan legislator perempuan itu diamini Wali Kota Madiun Maidi. Menurut dia, standardisasi lingkungan hidup indikator penilaian harus mencapai angka 100 untuk memperoleh Adipura Kencana. Untuk itu, Maidi menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) bekerja ekstra. Sejumlah persyaratan harus dipenuhi. Aturannya pun setiap tahun berubah. ‘’Kami sudah (mendapat) Adipura 14 kali. Kalau Adipura Kencana tidak dapat, itu kan ketinggalan,’’ ujarnya.

Penilaian Adipura tahun ini berubah cukup signifikan. Sebelum penilaian, masing-masing daerah diminta menyertakan kebijakan strategis daerah (jakstrada) berupa peraturan daerah (perda). ‘’Jakstrada itu kemudian dikirim ke KLHK. Selanjutnya, mereka akan mencocokkan dengan (kondisi lingkungan) daerah masing-masing,’’ imbuh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Suwarno.

Jakstrada memuat volume sampah harian masing-masing daerah. Seperti ton yang sudah diolah dan jumlah bank sampah. ‘’Setelah itu, sistem pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Winongo,’’ ujarnya.

Menurut Suwarno, sampah di TPA Winongo telah diolah jadi bermanfaat. Di antaranya, gas metan untuk masyarakat sekitar TPA. Juga untuk fasilitas mandi sauna. Sampah plastik diolah jadi bahan bakar. Pun memberdayakan para pemulung di TPA untuk memilah barang yang laku dijual. ‘’Jadi, nggak ada lagi istilah sampah bikin masalah. Justru malah jadi berkah,’’ tuturnya.

Sampah di TPA Winongo juga mulai dilirik investor. Sesuai proposal, salah satu investor dari Jakarta itu berencana mengolah sampah jadi energi listrik. Pihaknya bakal mempelajari proposal tersebut. Secara teknis, akan dievaluasi sampah yang diolah secara keseluruhan atau tertentu saja.

Jika jadi energi listrik semua, dikhawatirkan gas metan yang selama ini dinikmati warga akan ditiadakan. ‘’Jadi, kami tidak langsung oke. Karena sudah hampir empat tahun berjalan untuk gas metan. Itu sangat membantu masyarakat,’’ paparnya.

Dia menyebut nilai investasinya mencapai sekitar Rp 300 miliar. Investor tertarik antara lain karena sampah masuk ke TPA Winongo mencapai 115 ton per hari. Banyaknya sampah berarti bahan bakar di Kota Madiun tidak semakin habis.  ‘’Untuk diolah jadi energi listrik, sampah yang masuk ke TPA Winongo minimal 100 ton per hari,’’ jelasnya. (her/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close