Ponorogo

Ziarah Leluhur HOS Tjokroaminoto

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Slahung berasal dari selong (pengasingan). Di Tumpak Swangon Gunung Loreng itulah, Eyang Joyonegoro mengasingkan diri menghabiskan sisa hidupnya. Usai kekuasaannya sebagai bupati Gadingrejo (1604-1611) dibubarkan oleh Mataram Lama.

Kepala Desa Slahung Sukirman menyebut bahwa Eyang Joyonegoro merupakan putra dari panembahan senapati di Mataram. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa HOS Tjokroaminoto merupakan keturunan dari Eyang Joyonegoro. ‘’Sebelum pandemi, di sini selalu dilangsungkan kirab pusaka setiap satu Muharam,’’ katanya, Minggu (5/9).

Terdapat tiga pusaka yang dikirabkan. Yakni, tombak tunggul nogo, payung songsong buwono, dan tongkat jati kumoro. Kirab menempuh jarak tujuh kilometer mulai dari Desa Nailan sampai Desa Slahung dengan mengendarai kereta kuda. ‘’Peserta kirab berpakaian selayaknya anggota kerajaan,’’ jelasnya.

Makam Eyang Joyonegoro kerap didatangi peziarah dari berbagai daerah. Mulai sekitaran Madiun Raya, Kediri, Blitar, Surabaya, Banyuwangi, hingga Bogor. Sebelum pandemi, banyak peziarah berombongan naik bus pariwisata. ‘’Untuk sekarang ini peziarahnya dari lokalan Ponorogo saja,’’ ujarnya.

Pemdes setempat berencana membangun saluran air bersih di sekitar makam. Agar memfasilitasi kehadiran peziarah sebelum masuk dan sepulang dari makam. Pemdes bersama warga tetap menjaga kebersihan dan kelestarian bangunan agar tidak lapuk termakan usia. ‘’Berkat makam Eyang Joyonegoro, desa kami menjadi salah satu tujuan para peziarah,’’ tuturnya. (fac/c1/fin/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button