Ponorogo

Yang Benar Reyog, Bukan Reog

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Ini sederet argumentasi penyebutan reyog. Serat Centhini menerakan dua jenis tembang yang menyebut kata reyog. Yakni, syair berbunyi mawi reyog rak-arakan (dengan reyog iring-iringan) di tembang Maskumambang. Pun, syair kang dangu budhal reyog (reyog berangkat dengan lama) di tembang Durma. ‘’Semuanya menulis reyog dengan huruf y,’’ kata Rido Kurnianto, Ketua Tim Penyusun Naskah Akademik Reyog Ponorogo, Minggu (10/10).

Dia juga tunjuk bukti artikel yang ditulis Suyitno Martoatmojo di Jurnal Pustaka Jawi pada 1926. Isi artikel itu mengulas pengaruh reyog di Kediri hingga muncul kesenian jaran thek. Sejak dulu sudah banyak orang meniru seni reyog atau menyadur sebagian. ‘’Artikel itu juga menyebut kata reyog menggunakan huruf y,’’ jelasnya.

Rido juga pernah melakukan penelitian bahwa para warok menyebut reyog menggunakan y pula. Sebab, menyesuaikan dengan dialek (logat bahasa) yang menyebut gerakan dadak merak seperti rumpun bambu berbunyi reyeg (riuh, berisik) kala tertiup angin. ‘’Kata reyeg itu lebih mudah diucapkan dengan reyog,’’ terangnya.

Menurut Rido, manuskrip tentang reyog kebanyakan terdapat di Kota Leiden, Belanda. Mayoritas manuskrip berbahasa Belanda dan hanya beberapa ditulis dalam aksara Jawa. Reyog dalam naskah bahasa Belanda ditulis redjog. Ada rencana manuskrip-manuskrip itu dikembalikan ke Indonesia. ‘’Kalau yang Centhini dan Jurnal Pustaka Jawi sudah ada di Indonesia,’’ ungkapnya. (tr2/c1/hw/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button