Ponorogo

Wisata Spiritual Klampis Ireng di Gandukepuh, Sukorejo

Pengunjung Bertapa dan Berdoa Sesuai Kepercayaannya

Sudah lama dikeramatkan, situs Klampis Ireng di Gandukepuh, Sukorejo, juga berpotensi sebagai objek pariwisata. Masyarakat percaya, di sanalah tempat petilasan Eyang Ismoyo Klampis Ireng atau Kiai Semar.

====================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

GAPURA dari susunan bata merah menjadi pemandangan pertama memasuki situs budaya di Gandukepuh, Sukorejo, itu. Gapura yang tampak baru itu pagarnya hanya menutup bagian depan dan sisi kiri. Di tengah gapura terdapat papan nama besar bertuliskan Petilasan Eyang Ismoyo Klampis Ireng. Revitalisasi situs tersebut tetap mempertahankan dua patung semar di kanan-kiri gapura. Mengapa? ‘’Petilasannya Kiai Semar,’’ kata Syamsi, 84, warga setempat yang didapuk sebagai juru kunci.

Situs Klampis Ireng memang tak lepas dari sosok pewayangan tersebut. Sudah menjadi kepercayaan turun-temurun bagi warga Ponorogo, bahwa situs itu sempat ditinggali sosok Semar yang oleh sebagian kalangan disebut Eyang Ismoyo. ‘’Begitu kepercayaan yang diyakini masyarakat. Banyak yang dari luar kota juga ke sini (meyakini hal tersebut),’’ ujarnya.

Di situs tersebut, Syamsi bertugas sebagai juru kunci. Bertahun merawat, pengunjung yang dia temui beragam. Banyak yang datang dari luar kabupaten dengan pengharapan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. ‘’Macam-macam alasan dan keperluannya,’’ tutur Syamsi.

Saat disambangi siang itu, ada sejumlah warga yang beraktivitas di Klampis Ireng. Bahkan, ada anak-anak yang bermain di pelataran. Ada satu bangunan kecil berbentuk gubuk semipermanen di tengah-tengah situs. Di sana terdapat beberapa tas ransel terpajang. Menurut Syamsi, itu milik pengunjung dari luar Ponorogo. Kepada Syamsi, mereka meminta izin untuk tinggal beberapa hari. Katanya untuk berdoa sesuai kepercayaan mereka. Anak istri turut dibawa. ‘’Istilahnya bertapa,’’ sebut Syamsi.

Syamsi menerangkan, situs itu disebut Klampis Ireng lantaran dulunya sempat berdiri sebuah pohon klampis ireng. Pohon itu dulunya tinggi menjulang di tengah-tengah petilasan. Kini, pohon itu sudah tiada. Namun, ada sebuah bangunan dari semen berbentuk lingkaran di tengah-tengah yang dibangun sebagai penanda. Di tengahnya juga terdapat sebentuk lingkaran dari semen. Sekilas menyerupai sumur. Ada dupa dan kendi di sekitarnya. ‘’Di situlah dulunya berdiri pohon klampis ireng,’’ jelas Syamsi.

Menurut penuturan Syamsi, orang yang datang meyakini bahwa situs tersebut merupakan tempat yang tepat untuk bermunajat kepada Sang Pencipta. Dia punya pandangan tersendiri terkait ramainya situs tersebut. Jika dilihat dari kacamata pariwisata, Klampis Ireng sejatinya potensial untuk dikembangkan. ‘’Karena sudah terkenal. Bahkan, pejabat seperti bupati juga berkunjung. Karena itu, direhab itu bagus, menjadi lebih rapi,’’ tuturnya.*** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button