Madiun

Wisata Air Tengah Kota

JUMAT kemarin, saya kembali lagi menengok Sumber Umis. Kali ini, yang sebelah timur Jalan Pahlawan. Saya tidak sendiri. Ada ratusan pegawai Pemerintah Kota Madiun. Ada juga dari anggota TNI dan Polri serta masyarakat. Jumlahnya mungkin ada 500-an orang. Seperti Jumat minggu sebelumnya, kami bekerja bakti membersihkan sungai dan kawasan sekitarnya. Kalau yang Jumat sebelumnya dari parkir Sumber Umis ke barat sampai Jalan Pandan, kalau yang kemarin itu dari jembatan sungai ke timur belok selatan sampai Jalan Kalimantan.

Aliran sungai di selatan Balai Kota itu memang harus bersih. Apalagi, tepat berada di tengah kota. Di jantung kota kita. Banyak orang yang melintas di sekitarnya. Kalau sungainya kotor, apa kata mereka. Pembersihan kali ini juga dalam rangka menyambut hari sampah. Masyarakat harus peduli sampah. Kita yang mengawali sekaligus memberi contoh. Semoga itu menular ke masyarakat. Jadi tidak menunggu petugas pemerintah. Masyarakat membersihkan secara mandiri. Paling tidak, jangan membuang sampah di sungai. Sekarang juga tengah puncak musim penghujan. Bisa menimbulkan masalah lain.

Kawasan itu bukan sekedar dibersihkan. Ada rencana besar di baliknya. Seperti yang pernah saya tuliskan pada edisi sebelumnya. Bukan yang Senin kemarin. Senin belakangnya lagi. Yang soal tempat parkir kekinian itu. Cuman saya belum menuliskan tentang rencana taman di sekitar parkir Sumber Umis secara detail. Baru sebagian. Lebih banyak soal parkirnya. Yang akan ditembuskan ke Jalan Pandan itu. Jalan Pahlawan sudah cukup padat sekarang. Kendaraan yang parkir di Sumber Umis tidak lagi keluar ke Jalan Pahlawan. Tapi lewat Jalan Pandan. Saat ini sedang dibangun akses menuju ke Jalan Pandan. Lewat sebelah sungai.

Sisanya akan dibuat taman dan pedestrian. Kemarin sudah saya tuliskan. Ada jembatan dengan menara eifel sebagai daya tariknya. Tidak besar, karena fungsinya hanya sebagai simbol. Biarpun begitu cukup untuk kebutuhan foto kekinian. Juga ada lampu dan kursi tamannya. Berderet sepanjang sungai. Saya juga ingin ada menar jam seperti di Kota London, Inggris. Tentunya juga tak sebesar aslinya. Untuk keperluan ibadah ada musala yang didesain mirip ka’bah lengkap dengan menara air zam-zamnya.

Nah, ada yang kurang dari tulisan saya kemarin. Belum menyinggung soal wisata air. Sungai Sumber Umis yang melintas tepat di tengah itu akan dijadikan wisata air. Bukan arum jeram. Mungkin lebih tepatnya tubbing. Yang pakai pelampung ban dalam itu. Sungainya memang tidak terlalu lebar. Hanya sekitar tiga meter. Tetapi cukup panjang. Kalau dari sisi timur jembatan sampai di Jalan Panda nada sekitar 500 meter. Nanti sungai akan dibersihkan. Ada pengerukan juga. Kalau perlu bagian bawahnya kita cor. Jadi anak-anak bisa main disitu.

Kalau debit airnya turun, saya siapkan sumur dangkal di sisi timur jembatan. Sumur akan menambah debit air. Di bagian bawah juga dibendung. Tapi tidak sepenuhnya. Tetap ada alirannya biarpun tidak besar. Sungai tetap harus bersih. Saya sudah memanggil penanggung jawab perusahaan disekitar sungai. Saya larang buang limbah  ke sungai. Harus punya bak penampungan sendiri. Kalaupun dibuang ke sungai harus telah diolah. Jadi bersih dan tidak berbahaya. Kalau itu tidak dijalankan, akan saya tutup.

Pembersihan dua Jumat berturut itu bukan hanya soal taman, pedestrian, dan wisata air itu. Tetapi juga terkait lorong seni. Kalau yang ini ada di sisi timur Jalan Pahlawan. Yang menuju ke Jalan Kalimantan itu. Saat kerja bakti kemarin, sudah saya hitung bersama tim. Lorong ini cukup untuk 150 kios. Bayangkan, ada berapa ribu macam barang seni yang akan dijajakan di sana. Saya optimis ada banyak penjual barang seni di Kota Madiun. Banyak seniman di sini. Belum barang-barang kerajinan. Kalau perlu, bisa diisi dari koperasi wanita. Mereka selalu punya barang-barang kerajinan unik lagi menarik. Yang ingin pakaian khas juga ada. Saya berangan ada penjahitnya juga. Jadi yang pesan bisa ditunggu.

Konsep lorong seni ini tentu beda dengan yang di sisi barat. Kalau sungai dibuat wisata air di sisi barat, yang di timur malah akan ditutup box culvert pada bagian atasnya. Seperti konsep di sentra kuliner. Di atas box culvert baru dibuat pedestrian. Untuk kios-kios itu. Nanti juga ada kulinernya juga. Jadi yang jalan-jalan di trotoar bisa cari camilan dan barang seni di sana. Yang ingin lanjut ke mall juga semakin dekat. Sebab, ada Plaza Lawu Madiun di ujung selatan. Kalau jalan ke barat ada Plaza Madiun. Yang tradisional ada tapi tak jauh dari yang modern. Bahkan, yang ingin wisata air pun ada. Wisata air di tengah kota.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close