Ponorogo

Warjo, PMI Asal Ponorogo Meninggal Dunia di Malaysia

Niat Liburan di Malioboro sebelum Khitankan Anak

Satu lagi pekerja migran Indonesia (PMI) asal Ponorogo pulang tinggal jasad. Warga Desa Pagerukir, Sampung, itu meninggal di Malaysia. Diduga akibat keracunan buah durian.

==================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SUASANA duka menyelimuti sebuah rumah di Desa Pagerukir, Sampung, Ponorogo. Di dalam rumah duduk lesehan Salis Nurohmah berkerudung ungu. Matanya sembap. Perempuan 39 tahun ini tidak menyangka ditinggal pergi suaminya Warjo untuk selama-lamanya. Setelah 19 tahun berumah tangga.

Tangis tak terbendung karena sudah setahun lebih suaminya belum pulang kampung. Terakhir mudik Lebaran tahun lalu. Hanya dua bulan. Hingga terdengar kabar Warjo meninggal dunia di Malaysia, Senin (25/11). Masih lekat dalam ingatan Salis.  Kamis subuh (21/11) terakhir kali keduanya berkomunikasi melalui pesan WhatsApp.

Seperti biasa, sebelum berangkat kerja Warjo setia berkirim pesan singkat. Sore harinya, pukul 16.00,  putra semata wayang mereka Yohan Aprilianda tak sabar menelepon ayah tercinta. ‘’Sore itu biasanya sudah ngabari karena jam 16.00  sudah pulang kerja.  Kebiasaannya seperti itu,’’ kata Salis.

Sore itu Salis resah menanti pesan WhatsApp yang tak kunjung dibalas. Hari itu juga Salis  mencoba menghubungi ponsel teman kerja suaminya. Nihil. Nomor telepon temannya juga sulit dihubungi. Batin ibu satu anak ini pun tidak tenang. Keresahannya terjawab ketika keluarga mengabarkan Warjo meninggal dunia.

Di mata Salis, suaminya sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan penyayang. Belum lama ini Salis minta dibelikan sepeda motor. ‘’Baru saja beli motor Vario merah, langsung cash,’’ ujarnya.

Bahkan, Warjo merenovasi rumah hingga membeli peralatan elektronik. Teranyar memperbaiki dapur dan kamar mandi. Juga membeli beberapa hektare tanah di Desa Pagerukir. Semua disiapkan untuk kelangsungan istri dan anaknya.  ‘’Dia pendiam dan pekerja keras untuk keluarga,’’ ungkapnya.

Warjo yang tak tamat SMP merantau ke Malaysia sedari bujang. Pria yang kini berusia 45 tahun ini tertarik menyusul Wardi, kakaknya yang lebih dulu ke Malaysia sekitar 1997. Setelah lima tahun di negeri orang, Warjo pulang kampung dan menikahi Salis pada 2000. Setelah menikah Warjo kembali mengadu nasib ke Malaysia. ‘’Jadi buruh di kebun sawit,’’ kata Wardi, kakak Warjo.

Warjo tergiur dengan kehidupan Wardi yang dianggap cukup mapan sejak merantau ke luar negeri. Sebelumnya kerja serabutan ikut tetangga desa angon sapi dan mencari rumput. Terdesak kebutuhan ekonomi, Warjo memutuskan ke negeri jiran. ‘’Kami balik bareng tahun 2000,’’ paparnya.

Selama di Malaysia, kepulangan Warjo ke tanah air bisa dihitung jari. Biasanya, setahun ambil cuti  dua sampai tiga bulan. Malah pernah dua tahun tidak pernah pulang ke Indonesia. Rasa kangen keluarga cukup terobati melalui video call. ‘’Paling lama dia nggak pulang itu dua tahun,’’ ungkapnya.

Keluarga tidak memiliki firasat apa pun sebelum mendapat kabar Warjo meninggal. Hanya, beberapa hari lalu, Warjo sempat menghubungi Wardi. Mengutarakan rencananya pulang kampung Lebaran tahun depan. Memenuhi hajat sang buah hati untuk khitan. ‘’Katanya pulang nanti minta dijemput di Jogjakarta. Sekalian liburan di Malioboro sebelum pulang ke Ponorogo mengkhitankan anaknya. Almarhum ingin anaknya disunat sebelum SMP. Sekarang kelas VI SD,’’ paparnya.

Sayang, belum sempat merealisasikan rencana itu, ajal telah menjemputnya. Keluarga kurang tahu persis  penyebab  kematian Warjo. Mereka menunggu hasil pemeriksaan penyidik Malaysia. Warjo tidak pernah sakit atau masuk rumah sakit. Tidak memiliki riwayat sakit berat. ‘’Paling hanya meriang,  flu,  itu saja. Dikafani tadi badannya segar, nggak kelihatan sakit,’’ sebutnya.

Informasi yang diterima keluarga, Warjo meninggal diduga keracunan buah durian. Namun, mereka masih menunggu pemberitahuan resmi dari hasil pemeriksaan polisi Malaysia. ‘’Kami berharap hak-hak untuk anak istrinya terpenuhi,’’ pungkasnya sembari menyebut jasad Warjo tiba di kediaman Rabu sore (27/11) dan langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum setempat. *** (sat/c1) 

Disnaker Kesulitan Urus Hak PMI Nonprosedural

WARJO, PMI asal Desa Pagerukir, Sampung, Ponorogo, diduga meninggal dunia akibat keracunan. Warjo ditemukan pingsan usai menyantap buah durian di kebun kelapa sawit wilayah Taiping, Perak, Malaysia, Kamis pekan lalu (21/11).

Warjo meninggal Senin pagi (25/11) sekitar pukul 06.00 setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Jasad Warjo tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Rabu (27/11). ‘’Jenazahnya langsung kami bawa pulang ke rumahnya. Sampai di rumah pukul 14.30,’’ kata Kepala Desa Pagerukir Suminto Kamis (28/11).

Informasi datang dari Boimin, warga Desa Pagerukir yang juga PMI di Malaysia. Kamis sekitar pulul 08.00 waktu setempat, Warjo bekerja di kebun kelapa sawit bersama enam temannya sesama warga Ponorogo. Tiga orang bertugas memetik kelapa sawit. Sementara Warjo dan  dua lainnya bagian mengangkut.

Singkat cerita, tiga orang menuruni lereng  sawit. Tiga lainnya  di atas bukit. ‘’Katimun, teman lain, melihat Warjo datang membawa durian. Di dekat lahan sawit itu memang ada kebun durian,’’ ujar Boimin melalui sambungan telepon seluler.

Warjo dan dua temannya menyantap buah durian bersama-sama. Tidak lama setelah itu, mereka muntah-muntah dan mual. Bahkan, Warjo langsung pingsan dengan mulut berbusa. Tiga orang yang lebih dulu turun dari bukit curiga menunggu ketiga temanya tak kunjung kembali. ‘’Mereka nyusul ke atas dan menemukan Warjo pingsan. Dua teman lainnya masih bisa bicara, dan langsung dibawa ke rumah sakit,’’ paparnya.

Setelah pemeriksaan ditemukan zat racun dalam sel darah Warjo. Diduga durian beracun itu umpan untuk babi hutan. Namun, informasi detailnya Boimin belum bisa memastikan. ‘’Di sini (Malaysia, Red) masih diselidiki polisi,’’ terangnya.

Kasus Warjo menambah deretan panjang PMI asal Ponorogo yang meninggal dunia di negeri orang. Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ponorogo mencatat 14 PMI meninggal dunia tahun ini. Mayoritas karena sakit. Tiga tahun lalu 13 orang, lalu 2018 naik jadi 14 orang. ‘’Mayoritas, atau 99 persen karena sakit. Tindak lanjutnya, jika masih ada hak-haknya kami bantu pengurusannya,’’  kata Kasi Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri Disnaker Ponorogo Didit Santosa.

Menurut Didit, 50 persen PMI yang meninggal itu adalah buruh migran nonprosedural. Akibatnya, proses pemulangan jenazahnya lebih rumit. Terlebih urusan administrasi. Pun pihak keluarga harus membayar pengurusan hak-haknya. Banyak faktor masih ditemui PMI nonprosedural. Salah satunya, ketidaksabaran calon PMI mengikuti setiap tahapan sesuai prosedur.

‘’Inginnya cepat berangkat, kan perlu peranti visa kerja. Kalau asisten rumah tangga, pelatihan juga perlu. Juga ikut asuransi KK.  Makanya kalau nonprosedural agak susah untuk koordinasi guna membantu penyelesaian masalah,’’ jelasnya.

Terkait kasus Warjo, Didit enggan berkomentar. Rencananya, hari ini (29/11) akan mendatangi rumah duka untuk investigasi. Pihaknya telah mengetahui kabar tersebut. ‘’Mungkin besok (hari ini, Red) saya baru bisa konfirmasi. Saya belum ketemu keluarganya,’’ pungkasnya. (dil/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button