Ponorogo

Warga Sakit Harus Ditandu Ratusan Meter

Lingkungan Glundung, Dusun Watu Agung, Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, krisis kelaikan jalan. Di musim penghujan, medan jalan menjadi ekstrem. Tak bisa dilewati semua jenis kendaraan. Kondisi ini menyusahkan warga yang membutuhkan perawatan ke rumah sakit. Tiga hari lalu, seorang ibu muda harus ditandu demi melangsungkan persalinan. Sayang, nyawa buah hatinya tak terselamatkan.

—————

PAGI itu warga kompak kerja bakti. Akan tetapi, Tumper, ketua RT setempat, tidak terlihat bergabung. Rupanya, dia sedang mengurus Narti —salah seorang warganya— yang hendak melahirkan. Ditemani dua warga lain dan dua bidan desa, Tumper harus mengambil keputusan cepat. Sebab, Narti sudah tidak tahan merasakan sakit yang membelit perutnya. Usia kandungannya sudah sembilan bulan.

Narti pun lantas ditandu menempuh perjalanan sekitar 350 meter. Saat itu, Tumper memanggil satu warga lain yang sedang kerja bakti untuk membantu memikul tandu.  Sekitar pukul 08.00, Minggu (17/2), ibu muda yang hendak menyambut buah hati untuk pertama kali itu ditandu empat warga. Menuju mobil ambulans yang sudah menunggu di bawah. ‘’Bisa dilewati mobil, tapi jalannya licin sehabis hujan,’’ kata Tumper, ketua RT 3, RW 4.

Sayangnya, perjuangan menandu selama 30 menitan itu sia-sia. Sesampainya menjalani proses persalinan di RSUD dr Hardjono, buah hati Narti ternyata sudah tak bernyawa lagi. Hasil keterangan medis menyatakan, janin di kandungannya telah meninggal dua hari sebelumnya. ‘’Di musim penghujan begini, setiap ada yang sakit harus ditandu ketika hendak dibawa ke rumah sakit,’’ ujarnya.

Narti sebenarnya rajin mengecek kehamilan pertamanya tersebut. Saat kandungan berusia tujuh bulan, Narti merasakan sesak napas. Saat itu pun, dia sudah ditandu untuk dibawa ke rumah sakit daerah. Usai mendapatkan perawatan tiga hari tiga malam, keadaannya berangsur membaik. Dokter yang menangani memperkirakan bayi dalam kandungannya bakal lahir dalam usia kehamilan 9 bulan 14 hari. Narti lantas pulang dan beraktivitas seperti biasa. Saat tiba hari yang dinantikan, Narti kembali merasakan sesak napas. Bahkan perutnya terasa sakit. Tak tertahankan. ‘’Sebenarnya mau dibawa sepeda motor, tapi risikonya sangat berat,’’ ungkapnya.

Kesusahan mengakses jalan juga dirasakan puluhan warga desa setempat lainnya. Terutama bagi mereka yang mengharuskan memperoleh perawatan medis di musim penghujan. Pun, tandu seolah menjadi satu-satunya alat bantu transportasi sedari dulu. Jauh, sebelum warga bergotong royong membuatkan jalan penghubung antardusun itu. Pada 2004 lalu, warga berinisiatif membuka jalan selebar satu meter. Setidaknya, cukup dilewati sepeda motor. Dari situlah warga selalu gotong royong saat ada yang membutuhkan perawatan medis. ‘’Tidak berani mengambil risiko, harus ditandu,’’ tegasnya.

Warga lainnya, Parmin, juga ditandu saat membutuhkan perawatan ke rumah sakit setelah tersiram air panas. Saat ini, Parmin masih menjalani rawat jalan. Saat cek ke rumah sakit, dia juga masih tetap ditandu dari rumahnya menuju ambulans. Tak ada harapan lebih besar bagi warga saat ini selain mendapatkan akses jalan yang lebih layak. Sebab, musim penghujan tak hanya menyusahkan mereka yang memerlukan perawatan medis. Wilayah itu juga rawan longsor dan tanah retak. ‘’Kami berharap warga kami dapat merasakan kemajuan seperti yang dirasakan warga desa lain,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button