Ponorogo

Warga Cupo Tolak Fogging

NGAWIJawa Pos Radar Ngawi – Sosialisasi pentingnya fogging di Ngawi belum begitu mengena. Buktinya, sejumlah warga Dusun Cupo, Grudo, menolak dinas kesehatan (dinkes) mengasapi rumahnya Jumat (21/2). Padahal, tempat tinggal warga tidak jauh dari rumah seorang pasien suspect penyakit demam berdarah dengue (DBD). ‘’Kami sesalkan karena salah satu kriteria keberhasilan fogging itu beradius 200 meter dari rumah penderita DBD,’’ kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Ngawi Djaswadi.

Dia menerangkan, alasan warga menolak fogging karena beternak burung. Mereka khawatir asapnya bakal memengaruhi kondisi kesehatan binatang itu. Menurut dia, penolakan fogging untuk mencegah penyebaran nyamuk Aedes aegypti itu adalah kerugian. Sebab, ada kemungkinan nyamuk tersebut bersarang di sana. ”Sehingga, kalau ada satu warga yang tidak berkenan di-fogging, maka bisa dikatakan kegiatan kami tidak berhasil,” ujarnya.

Djaswadi menolak kala disinggung penolakan fogging akibat sosialisasi dinkes yang kurang mengena. Alasannya, kewenangan lembaganya adalah melakukan pengasapan. Pihaknya sudah menyurati pemerintahan desa (pemdes) setempat. Warganya diminta untuk menyiapkan dan menginformasikan pentingnya fogging. ‘’Jadi, terkait kesiapan warga dan adanya penolakan itu adalah tanggung jawab perangkat desa,’’ kilahnya.

Dinkes mencatat kenaikan penderita DBD dalam dua bulan terakhir. Jika sepanjang Januari lalu ada 15 penderita, per pertengahan bulan ini ada 25 pasien yang dirawat. Meski diklaim belum signifikan, kenaikan tersebut dijadikan atensi. Dinkes menyiapkan tiga langkah penanganan promotif, preventif, dan kuratif. ‘’Pencegahan lewat sosialisasi bahaya DBD, menerapkan program yang dikenal 3 M Plus, juga pencegahan setelah ada kasus yang terjadi seperti kegiatan fogging,’’ paparnya.

Djaswadi menyebut, wawasan masyarakat terhadap DBD perlu ditingkatkan. Sebab, karakteristik penderita DBD mengalami perubahan. Istilahnya, terjadi mutasi gen yang membuat tanda dan gejala sang penderita berbeda dengan sebelumnya. Ketika dulu yang dijadikan acuan trombosit 60 ribu per mikroliter, sekarang 20 ribu per mikroliter. Kendati dengan batas itu kondisi tubuh terlihat cukup baik, sejatinya tanda tersebut sangat berbahaya. ‘’Jadi, perlu waspada, dan jika mengalami demam selama tiga hari berturut-turut segera dilakukan pemeriksaan,’’ sarannya. (mg1/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close