Madiun

Wah, 66 Warga Desa Bantengan Positif Covid-19 usai Hadiri Mantenan

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Mungkin ini dampak disinformasi update kasus Covid-19 di Kabupaten Madiun. Mungkin juga karena kelonggaran kebijakan Pemkab Madiun yang mengizinkan sejumlah kegiatan masyarakat. Klaster mantenan muncul di Desa Bantengan, Wungu. ‘’Ada 66 warga positif setelah di-rapid test antigen,’’ kata Camat Wungu Junaedi, Senin (14/6).

Temuan itu bermula dari rapid test antigen massal di desa setempat Jumat lalu (11/6). Sebanyak 91 nama menjadi sasaran pengambilan sampel usap. Itu dilakukan setelah sejumlah warga mengeluh batuk dan pilek bersamaan. Alhasil, 66 orang di antaranya positif Covid-19. Rapid test massal dilakukan Puskesmas Wungu setelah ada warga yang periksa. ‘’Di lingkungan itu sebelumnya ada hajatan mantenan,’’ ujarnya.

Kepala Desa Bantengan Hartanto membenarkan ada mantenan di desanya. Hajatan itu berlangsung Rabu lalu (2/6). Setelah itu, banyak warga seperti mengeluh batuk dan pilek. Hanya, dia tidak bisa memastikan apakah 66 orang yang positif itu buntut mantenan tersebut. Sebab, sehari setelahnya, Kamis (3/6), mantenan juga digelar di Desa Karangrejo, Wungu.

Resepsi pernikahan di Desa Bantengan digelar di rumah pengantin perempuan. Sementara di Desa Karangrejo ngunduh mantu di rumah mempelai laki-laki. ‘’Hajatan juga menerapkan prokes (protokol kesehatan). Ada tempat cuci tangan, hand sanitizer, thermogun, dan prokes lainnya,’’ ungkap Hartanto.

Dia menyebut bahwa warganya yang punya hajat itu tidak termasuk dalam 66 warga positif. Di samping itu, gejala serupa juga terjadi di desa tetangga, yakni Desa Karangrejo. ‘’Soal tamu yang datang dari mana saja, kami belum bisa pastikan. Apakah ada yang dari luar daerah atau tidak,’’ ujarnya.

Tiga dari 66 warga yang positif itu sudah dirujuk ke RSUD Dolopo Sabtu malam (12/6). Itu setelah pemerintah desa setempat meminta 66 warga tersebut menjalani isolasi mandiri usai rapid test massal. Pun segera lapor jika ada gejala klinis lebih parah. Juga diberlakukan pemortalan di lingkungan setempat. ‘’Kami bentuk pos jaga untuk mengawasi mobilitas warga,’’ terangnya.

Menyikapi kondisi tersebut, muspika setempat ambil sikap kemarin (13/6). Petugas gabungan melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan setempat. Pun menekankan kepada masyarakat agar lebih disiplin melaksanakan prokes. Seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan menghindari mobilitas, alias 5M. (den/c1/sat/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button