Pacitan

Waduk Tukul Bisa Tenggelamkan 25 Desa

Apabila Bangunan Jebol Akibat Bencana Alam

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Keberadaan Waduk Tukul, Pacitan, ibarat dua sisi mata pisau. Satu sisi membawa manfaat, sisi lainnya bisa mengancam keselamatan masyarakat. Infrastruktur yang masih proses pengerjaan itu punya risiko luar biasa. Tatkala bangunan yang mampu menampung delapan juta meter kubik air itu jebol akibat bencana alam, puluhan desa di Kecamatan Arjosari dan Pacitan bisa tenggelam.

Potensi tersebut dibahas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dengan pemkab Rabu (8/1). Lewat sosialisasi rencana tindak darurat (RTD) di Gedung Karya Dharma. ‘’Tuhan punya kuasa sendiri. Tapi, setiap tahapan pembangunan ada sertifikasinya. Dari sisi keamanan bisa dipertanggungjawabkan,’’ kata Kasi Danau dan Waduk BBWS Bengawan Solo Khoirul Murod.

Murod mafhum kabupaten ini tinggi potensi bencana alamnya. Misalnya, gempa sesar Grindulu. Waduk setinggi lebih dari 60 meter dan luas tampungan air 44 hektare itu bisa saja rusak akibat gempa, hujan angin, atau cuaca ekstrem lainnya. Terlepas itu, lokasi waduk di Desa Karanggede, Arjosari, itu diperkirakan aman. Berdasar hasil survei geologi kelayakan pembangunan.

Lokasinya dipilih dengan faktor tingkat keminiman bencana. Konstruksinya juga dibuat dengan model tahan gempa. ‘’Tapi, seumpama yang diberikan (bencana, Red) lebih dari itu, yang dilakukan adalah mengantisipasi dan kesiapsiagaan,’’ ujarnya seraya menyebut usia waduk sekitar 50 tahun.

Langkah preventif BBWS diawali dengan pemetaan penduduk yang bermukim di sekitar waduk. Bila infrastruktur itu rusak dan jebol, dampaknya bisa sangat dahsyat. BBWS memprediksi lebih dari 25 desa di Arjosari dan Pacitan terdampak. Terutama di sekitar Sungai Grindulu. ‘’Setelah pemetaan dilanjutkan dengan sosialisasi dan simulasi bencana,’’ terang Murod.

Dia mengatakan, sosialisasi dan simulasi diharapkan bisa membuat warga tidak panik saat bencana terjadi. Kegiatan tersebut termasuk untuk menilai keefektifan pemetaan yang telah disiapkan sebelumnya. ‘’Sudah ada kesepakatan dengan bupati soal kondisi darurat dan sebagainya,’’ tuturnya.

Bupati Pacitan Indartato mengatakan, pemetaan titik kerawanan bencana dan jalur evakuasi mutlak dilakukan. Sehingga tidak gagap dalam melakukan penanganan. Bukan hanya ketika kejadian, melainkan juga pascabencana hingga rehabilitasi masyarakat terdampak. ‘’Pendataan yang tidak komplet akan jadi masalah di kemudian hari. Karena itu, harus dipetakan mulai sekarang,’’ ujarnya.

Meski datangnya bencana tidak diharapkan, bupati berharap masyarakat siap menghadapi segala kemungkinan. Kerja sama dengan BBWS jadi modal yang bagus untuk menghadapi risiko itu. ‘’Ada SOP (standard operating procedure, Red) dan akan kami persiapkan sebaik-baiknya,’’ ucap bupati. (gen/c1/cor)

Kena Longsor, Boyongan Molor

LONGSOR yang menghantam gedung baru SDN 2 Karanggede dan SMPN 4 Arjosari Satu Atap (Satap) berbuntut panjang. Rencana boyongan siswa dan guru satuan pendidikan itu molor. Sebab, kerusakan bangunan akibat tertimpa material Minggu lalu (5/1) harus diperbaiki. ‘’Pindahnya setelah kondisi memungkinkan,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan Daryono Rabu (8/1).

Daryono memperkirakan boyongan dilakukan sepekan lagi. Tenggat tersebut untuk menyelesaikan sejumlah kegiatan force majeure. Seperti pembersihan longsor, pengerukan tebing belakang sekolah, dan perbaikan kaca serta atap yang rusak. Perbaikan dikerjakan penyedia jasa karena masih tahap pemeliharaan. ‘’Masa perawatan sampai enam bulan,’’ ujarnya sembari menyebut bangunan sekolah lama masih bisa digunakan sesuai kebutuhan.

Dindik mengklaim lokasi bangunan baru ideal, meski terkena longsor. Pemilihannya tidak jauh dari permukiman dan sekolah lama. Pihaknya kesulitan mencari lokasi datar. Karakteristik kawasan tersebut memang berada di perbukitan. ‘’Itu pilihan terbaik. Tapi, karena memang tipe kemiringan tanah yang tinggi dan keprasan, akhirnya longsor,’’ bebernya.

Daryono menambahkan, kajian potensi longsor bakal diperdalam. Pembangunan pagar pengaman akan dianggarkan. Mengingat, sekolah satap baru tersedia bangunan gedung dan fasilitas toilet. ‘’Pagar dan halaman menyusul. Semua dilakukan secara bertahap,’’ tuturnya. (gen/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button