Madiun

Waduh! 160 Siswa di Kabupaten Madiun Putus Sekolah

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Tabir gelap dampak pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19 di Kabupaten Madiun mulai tersingkap. Angka putus sekolah meningkat. ‘’Tahun lalu terdapat 160 siswa DO (drop out),’’ kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun Siti Zubaidah, Rabu (26/5).

Dikbud setempat mencatat, ada penambahan 68 siswa DO dalam rentang dua tahun terakhir. Dari 92 siswa pada 2019 melonjak jadi 160 siswa pada 2020. ‘’Faktor dominan putus sekolah karena hamil di luar nikah dan persoalan ekonomi. Hal itu juga terlihat dari data dispensasi kawin (diska) di pengadilan agama (PA),’’ ujar Siti.

Fenomena itu terjadi bersamaan dengan penerapan PJJ dampak pagebluk korona. Meski prihatin, pihaknya tidak dapat memastikan apakah peningkatan angka putus sekolah berkorelasi dengan tidak adanya kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelas. ‘’Kondisi itu menjadi keprihatinan bersama. Evaluasi harus dilakukan,’’ tegasnya.

Siti tidak memungkiri ada pola pembelajaran yang berubah. Dari pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi dalam jaringan (daring) alias online. ‘’Pola kehidupan anak menjadi berubah. Sementara kontrol orang tua kurang hingga berpotensi menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,’’ bebernya.

Siti menekankan, pemkab tidak akan tinggal diam menyikapi kondisi tersebut. Konsep bimbingan bagi anak putus sekolah telah disiapkan. Yakni, mengarahkan mereka untuk mengikuti program kejar paket. ‘’Tujuannya agar cita-cita mereka tidak habis setelah DO. Masih ada kesempatan melanjutkan pendidikan nonformal lewat kejar paket. Lalu ke program vokasi,’’ paparnya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button