PendidikanPonorogo

Wacana Uji Coba PTM SD-SMP di Ponorogo

Maksimal 30 Persen Siswa Per Kelas

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo tak grusa-grusu menggelar uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Kajian masih dilakukan untuk merumuskan sistem terbaik agar uji coba tidak berujung munculnya klaster baru penularan Covid-19. ‘’Selain masih diverifikasi satgas di kecamatan masing-masing, kami juga menunggu persetujuan bupati,’’ kata Kepala Dindik Endang Retno Wulandari Selasa (1/9).

Wacana ini dicuatkan Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 Agus Pramono. Retno menyampaikan, wacana itu muncul dari uji coba PTM SMA dan SMK. Selama dua pekan uji coba, hasilnya positif. ‘’Kami melihat tidak ada masalah selama uji coba tersebut,’’ ujarnya.

Apalagi, saat ini Ponorogo berstatus zona kuning. Sesuai kebijakan pemerintah, boleh menggelar uji coba PTM. Jumlah siswa yang masuk maksimal 50 persen per kapasitas kelas. ‘’Tapi, SD dan SMP tidak akan sebanyak itu. Mungkin sementara 30 persen dulu. Masuknya bergantian dan tidak ada istirahat,’’ ulas Retno.

Dindik mewacanakan satu SDN per kecamatan. Untuk tingkat SMP, per kecamatan satu SMP negeri dan satu SMP swasta. Khusus kecamatan kota, sejumlah sekolah negeri dan swasta akan ditunjuk. ‘’Meskipun saya yakin, sekolah di kota telah siap semua,’’ tuturnya.

Pihaknya menaruh atensi khusus pada uji coba kelas I, II, dan III SD. Lantaran masih anak-anak, dikhawatirkan kurang memperhatikan protokol pencegahan Covid-19. ‘’Kalau orang tua tidak mengizinkan anaknya masuk, tidak masalah. Jadi, bisa tetap belajar di rumah,’’ jelasnya. (naz/c1/sat)

SMPN 1 Jetis Ciptakan Bilik Detektor Suhu Tubuh

SEJUMLAH sekolah bersiap menyambut wacana uji coba PTM. SMPN 1 Jetis, misalnya. Para gurunya menciptakan bilik detektor suhu tubuh untuk siswa dan guru saat penerapan uji coba. Pembuatan alat tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp 5 juta. ‘’Pembuatannya tidak sulit. Tiga hari merangkai alat dan bilik. Yang cukup lama pemrogramannya,’’ kata Dwi Sujatmiko, guru prakarya SMPN 1 Jetis, Selasa (1/9).

Dwi dan para guru sengaja membuatnya setelah dindik mewacanakan menggelar uji coba PTM. Menurut dia, protokol pencegahan Covid-19 perlu diterapkan maksimal pada guru dan siswa. Mengukur suhu tubuh dengan thermo gun dinilai kurang efektif. ‘’Bilik ini bisa mengurangi kontak,’’ jelasnya.

Cara penggunaannya, siswa atau guru tinggal memasuki bilik tersebut. Sensor inframerah akan bekerja mengukur suhunya. Juga ada sensor ultrasonik untuk membuka palang pintu otomatis. ‘’Jadi, tinggal masuk bilik, dekatkan dahi atau tangan ke sensor sekitar dua sampai tiga detik,’’ terangnya.

Petugas dapat memantau suhu tubuh orang di bilik melalui aplikasi di gawai. Jika di bawah 37 derajat Celsius, palang pintu depan akan terbuka. Jika di atas 37 derajat Celsius, palang pintu sebelah kiri yang akan terbuka. ‘’Kalau pintu kiri terbuka, tandanya siswa atau guru itu diminta menuju unit kesehatan sekolah (UKS),’’ beber Dwi, sembari menyebut pihaknya mengembangkan bilik supaya tersambung dengan data nama siswa. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button