Magetan

Usulan Normalisasi Kali Ulo Tak Direspons BBWS Bengawan Solo

MAGETAN, Radar Magetan – Warga Desa Jajar, Kecamatan Kartoharjo, waswas menyusul datangnya musim penghujan. Mereka khawatir banjir kembali menerjang. Apalagi, saat ini kondisi Kali Ulo mengalami pendangkalan. ‘’Tadinya mencapai sekitar tujuh meter dalamnya,’’ kata Kepala Desa Jajar Eko Suprayitno.

Dia mengungkapkan, aliran sungai yang berhulu di Poncol itu mengalami sedimentasi parah. Sekarang, kondisi kedalaman sungai yang berada persis di atas dam tinggal 3 meter. Sementara, di bawah dam berkedalaman 4 meter. ‘’Bukan karena sampah, tapi karena ada tanah yang terbawa arus air ketika musim penghujan,’’ jelas Eko.

Dia menyebut, pihak pemdes sudah mengajukan normalisasi sungai kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo pertengahan tahun lalu. Namun, sampai sekarang belum ada tindak lanjut. ‘’Sudah saya usulkan untuk mengeruk sungai, khususnya pada BBWS Bengawan Solo,’’ ujarnya.

Meski begitu, Eko mengaku pihak pemkab sempat menyambangi desanya sekitar empat bulan lalu. Namun, mereka sekadar sosialisasi siaga banjir. Padahal, pihaknya berharap ketika itu ada follow-up dari pemkab terkait rencana normalisasi Kali Ulo. ‘’Ya mau gimana lagi. Dari BBWS Bengawan Solo juga belum ada jawaban sampai sekarang,’’ bebernya.

Eko menyampaikan, sebetulnya ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari tindakan normalisasi BBWS Bengawan Solo. Seperti ketersediaan debit air sungai bisa terjaga untuk pengairan sawah. Pun saat musim hujan dapat mereduksi risiko banjir. ‘’Tiap tahun pasti meluap, lalu berdampak pada lahan pertanian,’’ tuturnya.

Eko bakal melaporkan persoalan ini kepada Bupati Suprawoto. Dengan harapan, pemkab bisa turun tangan untuk membantu komunikasi terkait normalisasi Kali Ulo. ‘’Kalau solusi jangka panjang belum bisa, perlu ada sudetan di Mantingan untuk mengurangi luapan di Kali  Ulo,’’ terangnya. (fat/c1/her)

Masih Kesulitan Air Bersih

SEMENTARA itu, masalah kekeringan masih dirasakan oleh sebagian masyarakat Magetan kendati masuk musim penghujan. Kasus itu dialami warga Desa Kediren, Kecamatan Lembeyan. Beberapa sumur dalam warga yang biasa digunakan untuk mencukupi kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci telah mengering.

Plh Kepala Desa Kediren Yuliana mengatakan, ada sekitar 2 ribu jiwa yang terdampak kekeringan di desanya. Permohonan dropping air bersih bahkan sudah dilakukan sejak 12 September lalu. ‘’Memang tidak semua warga mengalami krisis air bersih. Karena ada di antara mereka yang sumurnya tidak kering,’’ kata Yuliana Kamis (14/11).

Selama ini ada tiga dusun yang perlu mendapat pasokan air bersih dari BPBD. Yakni, Dusun Selungguh, Sekadalan, dan Ledok. Sementara sisanya memanfaatkan air PDAM Lawu Tirta. ‘’Kami masih butuh dropping air dari BPBD saat ini,’’ ujarnya.

Namun, kebijakan BPDB untuk tidak lagi mendistribusikan air bersih saat ini membuatnya kewalahan. Sebab, proses dropping air bersih ditangani langsung oleh pemdes dan bantuan pihak swasta. (fat/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close