features

Usia 40 Tahun Sutoyo Sudah Jadi Ketua MUI

Tolak Ganti Nama demi Hormati sang Ayah

Sosoknya sudah tak asing lagi di kalangan ulama dan pemuka agama Kota Madiun. Bagaimana tidak, sudah 16 tahun KH Muhammad Sutoyo menjadi nakhoda MUI daerah setempat. Apa saja catatan menarik di balik empat periode dirinya menjabat ketua MUI?

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

USIA KH Muhammad Sutoyo baru 40 tahun saat kali pertama menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun pada 2005 silam. Kala itu dia tercatat sebagai ketua MUI termuda se-Indonesia. Catatan itu mengantarnya dipanggil ke Istana Negara untuk menerima hadiah umrah dari pemerintah tiga tahun berselang.

Jauh sebelum itu, Sutoyo muda nyantri di sejumlah pondok pesantren (ponpes). Mulai Al-Fatah, Temboro, Magetan; Wareng, Beran, Ngawi; hingga Mambaul Hikmah, Ponorogo. Kala itu dia juga merupakan aktivis mahasiswa. Pun, perintis berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Madiun pada 1992.

Sutoyo juga berkiprah di sektor pendidikan dengan mendirikan Ponpes Sunan Kalijaga di Kendal, Ngawi, pada 1993. Sampai sekarang dia masih tercatat sebagai ketua yayasan yang menaungi ponpes tersebut. Tiga tahun berselang, pria yang juga seorang pendekar pencak silat itu meniti karier sebagai dosen Universitas Merdeka (Unmer) Madiun. ‘’Semua bidang yang saya pernah terlibat di dalamnya berkesan,’’ aku alumnus Universitas Islam Malang (Unisma) itu.

Pada 2005 Sutoyo terpilih sebagai ketua MUI Kota Madiun. Selama tiga periode kepengurusan berikutnya, pria 51 tahun itu kembali dipercaya menakhodai organisasi ulama tersebut hingga sekarang. Selama itu pula dia menghadapi sejumlah tantangan. Mulai menangkal aliran sesat hingga memberangus bibit radikalisme.

Selain pernah tercatat sebagai yang termuda, Sutoyo sempat menjadi satu-satunya ketua MUI yang memiliki nama Jawa. Ada kisah menarik di balik nama itu. Saat masih duduk di bangku SD pernah hendak diganti Mudakir. Namun, dia menolak sebagai bentuk penghormatan kepada sang ayah.

Hingga SMA Sutoyo kerap mendapat pertanyaan terkait makna namanya yang berbau Jawa. Saking penasarannya, Warga Jalan dr Cipto, Kartoharjo, itu lantas bertanya kepada ayahnya. ‘’Ternyata nama Sutoyo itu artinya air yang baik,’’ ungkapnya. ‘’Juga terselip doa dan harapan suatu saat bisa naik haji. Alhamdulillah, doa itu diijabah,” imbuhnya.

Di balik kesibukannya yang terbilang padat, pria asli Kendal, Ngawi, itu saban hari nyaris tak pernah absen gowes alias bersepeda. ”Kalau pagi nggak sempat ya sore. Untuk refreshing begitu,” ujarnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button