AdvertorialPacitan

Upaya PJB PLTU Pacitan Terapkan Metode Co-firing

Kurangi Batu Bara, Lirik Limbah Serbuk Kayu

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan– Pembangkit Jawa Bali Unit Bisnis Jasa Operation and Maintenace (PJB UBJOM) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pacitan berinovasi dengan mengunakan limbah serbuk kayu sebagai bahan bakar untuk memproduksi listrik. Penggunaan serbuk kayu itu mendukung upaya pemerintah meningkatkan energi baru terbarukan (EBT) hingga bauran energi mencapai 23 persen pada 2025 mendatang. ‘’Pemakaiannya lebih efisien, harga limbah kayu Rp 350 ribu per metrik ton, adapun batu bara Rp 700 ribu per metrik ton. Sehingga PJB masih mendapatkan margin,’’ ujar General Manager PT. PJB UBJOM PLTU Pacitan Maryono.

Maryono mengungkapkan kebutuhan bahan bakar dari sumber alami terbarukan (biomassa) di unit pembangkitan Pacitan mencapai 15 ribu ton per bulan. Dari jumlah tersebut, penggunaan serbuk kayu menyumbang lebih dari 3.800 ton. Pemanfaatan bahan bakar dari biomassa untuk pembangkit listrik (Co-firing) ini dipasok dari industri kayu. ‘’Energi hijau yang dibangkitkan sekitar 2X300 megawatt (mw),’’ imbuhnya.

Saat ini PLTU Pacitan sudah memasuki fase komersial. Nantinya, Co-firing yang semula lima persen akan ditingkatkan bertahap dari 10 persen hingga 40 persen. Penggunaan serbuk kayu dalam industri pembangkit listrik sejalan dengan target bauran energi terbarukan 23 persen pada 2025 mendatang. Harusnya peluang ini bisa ditangkap masyarakat sekitar.

Kata Maryono, warga bisa berkelompok menghimpun limbah kayu untuk dijadikan serbuk dan disetor ke PJB PLTU Pacitan. Apalagi selama empat bulan terakhir, PJB lebih mengandalkan pasokan dari pemasok besar (industri kayu). ‘’Sebenarnya ini peluang bagi masyarakat, hanya saja memang ada masalah di feedstock (bahan baku). Selama ini ekosistem belum terbentuk, tapi peluang yang harus segera ditangkap,’’ terangnya..

Maryono menjelaskan uji coba Co-firing serbuk kayu di PLTU Pacitan 2×300 mw berlangsung 2 September lalu. PJB secara total telah melakukan uji coba di 11 PLTU di Pulau Jawa, Kalimantan maupun Nusa Tenggara. ‘’Sedangkan Co-firing yang digunakan bervariasi menyesuaikan pasokan bahan sekitar lokasi, mulai pelet kayu, serbuk kayu, maupun cangkang sawit,’’ pungkasnya. (ti2/aan/adv)

Salurkan Listrik di APB Jatim dan APB Jateng

SEMENTARA itu, warga Kabupaten Pacitan boleh berbangga. Pasalnya, di tanah kelahiran Presiden Republik Indonesia ke-7, Susilo Bambang Yudhoyono ini telah berdiri PLTU Pacitan. Kapasitas PLTU ini cukup besar, mencapai 2×315 megawatt (mw). Pembangunan PLTU ini merupakan bagian dari fast track program tahap pertama yang dicanangkan pemerintah.

PLTU Pacitan terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan. Pembangunan PLTU ini dikerjakan oleh konsorsium Dongfang Electric dan PT Dalle Energy. Sedangkan operasional dan maintenance dikerjakan PT PJBS. ‘’Untuk kebutuhan batu bara, selama ini dipasok PT Bukit Asam. Saat ini kami juga menerapkan metode Co-firing dengan menggunakan limbah serbuk kayu,’’ terang General Manager PT PJB PLTU Pacitan Maryono.

Letak PLTU Pacitan yang berada di perbatasan membuat penyaluran listrik tidak hanya di Area Pengaturan Beban (APB) Jawa Timur (Jatim), tapi juga APB Jawa Tengah (Jateng). ‘’Untuk evakuasi dayanya disalurkan melalui GI PLTU Pacitan 150 KV menuju Gardu Induk (GI) Pacitan dan GI Nguntoronadi,’’ ujarnya. (ti2/aan/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button