MadiunPendidikan

Uji Coba Cabdindik Bergantung Kesiapan Protokol Kesehatan

MADIUN, Jawa Pos  Radar Madiun – Pemkot memberikan sinyal hijau terkait uji coba pembelajaran tatap muka SMAN 2, SMKN 3, dan SLBN Manisrejo. Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Madiun itu tinggal menanti pengecekan lanjutan dari dinas kesehatan setempat. Apakah rencana itu benar-benar dapat direalisasikan sehari setelah hari kemerdekaan?

Kepala Cabdindik Madiun Supardi mengatakan, pengajuan uji coba bagi tiga sekolah di bawah naungannya telah didisposisikan ke Dinkes Kota Madiun. ‘’Besok (hari ini, Red) dicek kesiapan protokol kesehatan di masing-masing sekolah,’’ tegasnya Rabu (12/8).

Supardi meyakinkan seluruh protokol kesehatan telah dipersiapkan matang. Pun, murid dan guru yang datang dari luar kota diwajibkan menyertakan surat rapid test yang menyatakan nonreaktif. ‘’Dari luar kota wajib tes cepat,’’ katanya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Madiun Agus Supriyanto mengaku telah menyepakati rencana Cabdindik Madiun. Pemilihan tiga sekolah terkait dianggap tepat karena paling siap dalam sarana dan prasarana penunjang protokol kesehatan. ‘’Pertimbangan lainnya, tiga sekolah itu kebanyakan siswanya dari dalam kota,’’ ujarnya.

Agus berharap, selama uji coba pembelajaran tatap muka tidak terjadi masalah. Uji coba ini bakal menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan pembelajaran tatap muka secara serentak di seluruh jenjang sekolah menengah atas pada 1 September mendatang. ‘’Jika tidak ada masalah, SMA/SMK di Kota Madiun bakal melaksanakan tatap muka dengan ketentuan sama,’’ terangnya.

Sebaliknya, jika selama pembelajaran tatap muka terjadi penambahan kasus penularan baru, maka rencana tatap muka awal bulan ditangguhkan. ‘’Kita lihat dulu nanti pelaksanaannya seperti apa, baru dievaluasi,’’ jelasnya.

Nirmala Putri mengaku telah mendapatkan angket dari SMAN 2. Angket dari sekolahnya itu berisikan kolom persetujuan antara memilih tetap pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau tatap muka. ‘’Orang tua saya memilih tetap PJJ karena yang positif terus bertambah,’’ tutur siswi kelas XI SMAN 2 itu. (mg3/c1/fin)

PJJ Masih Bisa Dioptimalkan

PERSATUAN Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Madiun mendukung penuh keputusan pemkot yang tidak tergesa melangsungkan pembelajaran tatap muka. Aspek kesehatan dan keselamatan seluruh pelaku pendidikan tetap harus dikedepankan. ‘’Keputusan Pak Wali itu mempertimbangkan banyak hal. Sebagai praktisi pendidikan dan mantan ketua PGRI di kota ini, beliau sangat paham,’’ kata Ketua PGRI Kota Madiun Hariyadi.

Hariyadi mengingatkan, pembukaan tatap muka di satuan pendidikan harus mempertimbangkan sarana-prasarana secara detail. Termasuk guru dan tenaga pendidikan lainnya. Izin dari wali murid serta masukan dari komite juga harus diperhatikan. ‘’Kami sejak awal mengedepankan masalah nasib anak didik,’’ ujarnya.

Solusinya, Hariyadi tetap berpegang terhadap pembelajaran jarak jauh (PJJ) agar lebih dioptimalkan. Meskipun PJJ, diakuinya, memiliki berbagai kelemahan. Mulai dari tugas siswa menumpuk, angka putus sekolah yang dikhawatirkan meningkat, hingga kesenjangan sosial. Namun, PJJ juga memiliki sejumlah kelebihan. Yakni, waktu yang relatif singkat, mudah diakses, pun siswa dapat mengembangkan pembelajaran lain dengan kelonggaran waktu yang ada. ‘’Kelebihannya ini harus menjadi penguat dalam penerapan PJJ,’’ urainya.

Penguat tambahan dalam pelaksanaan PJJ, lanjut Hariyadi, yakni dengan adanya kurikulum darurat. Sebagaimana keputusan Kemendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Kurikulum tersebut dapat menjadi patokan bagi sekolah. ‘’Sebelumnya sekolah dan guru ini kan kebingungan bagaimana kurikulum yang digunakan,’’ tuturnya.

Dengan demikian, pekerjaan rumah guru dan sekolah saat ini mencari formulasi untuk dapat menanamkan pendidikan karakter melalui PJJ. Sebab, pembentukan karakter tidak akan terbentuk melalui PJJ. Secara teoritis, 80 persen karakter akan terbentuk melalui tatap muka. ‘’Ada interaksi emosional ketika tatap muka,’’ sebutnya.

Pekerjaan rumah lain yakni bagaimana komunikasi yang dibangun dalam PJJ itu tidak kering. Sehingga proses interaksi dua arah antara siswa dan guru dapat terbangun. Hariyadi yakin seluruh tantangan itu dapat diselesaikan oleh guru yang saat ini posisinya menjadi sangat vital. ‘’Peran guru tetap tidak akan tergantikan,’’ ungkapnya.

Di masa ini, peran guru justru semakin kentara. Setidaknya, PJJ memberikan kesadaran terhadap masyarakat bahwa mendidik itu bukanlah pekerjaan mudah. Butuh ilmu dan profesionalitas serta tidak asal-asalan. ‘’Ketika ada pandemi ini, kita jadi lebih tahu bahwa mendidik itu tidak mudah,’’ tegasnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close