Madiun

Turun Tangan, Bupati Madiun Negosiasi Satu Jam

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – ‘’Kami tidak mau ke mana-mana. Rumah sakit itu untuk orang sakit, bukan orang sehat. Tidak punya gejala batuk, pilek, dikatakan sakit,’’ kata seorang perempuan di hadapan Bupati Madiun Ahmad Dawami yang berjarak sekitar dua meter.

Kaji Mbing, sapaan akrab bupati, berdiri tenang mendengarkan argumen itu. ‘’Kasus seperti ini tidak bisa dipaksa secara fisik. Tapi, harus dipatahkan pemahamannya,’’ ujarnya kemarin (15/5).

Perempuan yang mengenakan mukena putih itu berdiri di teras rumah bersama seorang pria. Keduanya adalah orang tua pasien positif Covid-19 asal Desa Sewulan, Dagangan, berusia 18 tahun yang terkonfirmasi Kamis petang (14/5). Mereka ngotot menolak ketika sang anak yang tertular dari klaster ponpes Temboro, Magetan, itu akan dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.

Bupati sendiri yang harus turun tangan membujuk lantaran upaya penjemputan petugas medis dan aparat sebelumnya ditolak. Butuh waktu hingga satu jam negosiasi agar sang orang tua memperbolehkan anaknya dirawat. Setelah memberi pemahaman berulang kali, pasien laki-laki itu lantas dibawa ke RSUD Dolopo dengan mobil ambulans.

Kaji Mbing mengungkapkan, upaya menjemput pasien korona sering kali tidak mudah. Keluarga ada yang menolak. Mereka gagal paham betapa pentingnya penanganan medis. Dalihnya bermacam-macam. Seperti merasa terzalimi karena merasa tidak sakit. ‘’Saya tekankan, pemerintah tidak akan menjerumuskan masyarakatnya,’’ tegas Kaji Mbing seraya mengaku sudah enam kali membujuk orang tua pasien.

Selain menolak dirawat, lanjut bupati, ada kasus keluarga pasien yang enggan melakukan isolasi mandiri. Protokol itu harus dilakukan lantaran ada anggota keluarga yang positif korona. ‘’Keluarga itu tetap beraktivitas seperti biasa dan keluar-masuk lingkungan sekitar,’’ ungkapnya.

Bupati menekankan, wilayah yang terdapat kasus positif rentan menularkan virus. Karenanya, penerapan protokol kesehatan harus diperketat dan dipatuhi. ‘’Warga itu variatif menyikapi anjuran pemerintah. Padahal, petugas di lapangan bertaruh nyawa, mengapa tidak dipahami itu,’’ sesalnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close