Madiun

Tugu di Simpang Susun Gerbang Tol Madiun Dinyinyiri seperti Palu-Arit

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Keberadaan tugu di kawasan gerbang tol Madiun bikin gaduh. Ada yang menyebut mirip lambang Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan, politikus Roy Suryo dan Fadli Zon ikut menyinyiri di media sosial (medsos). Namun, pihak PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK) menepisnya.

Selaku pengelola ruas tol Solo-Kertosono, mereka mengklaim tugu tersebut merupakan bentuk tiga dimensi dari logo dua dimensi perusahaannya. ‘’Kalau tidak paham filosofi, pasti akan muncul persepsi yang bukan-bukan,’’ kata Direktur Utama PT JNK Dwi Winarsa Selasa (11/2).

Dalam logo dua dimensi yang berbentuk lingkaran warna biru, terdapat dua garis dominan. Satu garis lurus berwarna putih dan satu lagi melengkung warna kuning. Dwi menjelaskan, garis lurus mengandung makna harapan agar perusahan dapat tumbuh cepat. Sementara garis melengkung sebagai visualisasi tol untuk memberikan pelayanan dengan baik. ‘’Pembangunan tugu itu juga sudah disetujui direksi (PT Jasa Marga, Red),’’ ungkapnya.

Dwi menegaskan, sedikit pun tidak terpikir lambang palu-arit saat membangun tugu di simpang susun gerbang tol Madiun itu. Bentuk tiga dimensi tugu tersebut jika dilihat dari sudut tertentu akan membentuk huruf J-N-K.

Tugu sengaja dibangun di Kabupaten Madiun dengan pertimbangan tingkat keramaian gerbang tol yang tinggi. Pun kantor pusat PT JNK di kabupaten ini. ‘’Di samping sebagai branding perusahaan, diharapkan juga sebagai penanda bagi pemakai jalan yang belum mengetahui akses gerbang tol Madiun,’’ bebernya.

Kondisi tugu ikonik itu baru 90 persen jadi. Belum ada tambahan lambang dua dimensi, tulisan JNK, dan lambang Kementerian PU, sesuai rencana awal di sekitar tugu. Sehingga, belum lengkapnya bangunan pendukung menimbulkan multitafsir.

Untuk itu, sesegera mungkin pihaknya bakal merampungkan sisa pekerjaan pembangunan tugu. ‘’Sementara warna tugu masih tetap putih dengan pertimbangan segi perawatan. Jika tetap jadi polemik, akan dipertimbangkan lebih lanjut untuk mengecat (bagian tugu yang melengkung) jadi kuning seperti lambang dua dimensinya,’’ tuturnya. (den/c1/sat)

Omongan Politikus Nasional Sudutkan Madiun

PEMERHATI sejarah Madiun ikut meluruskan polemik seputar tugu di kawasan gerbang tol Madiun. Dipastikan wujud tugu tersebut berbeda dengan lambang palu-arit. Wakil Ketua Historia van Madioen (HvM) Widodo tak habis pikir dengan persepsi berbagai kalangan. ‘’Saya juga heran, kok dikaitkan dengan logo palu-arit. Dan yang membicarakan itu politikus nasional,’’ katanya Selasa (11/2).

Menurut dia, orang Madiun tidak pernah berpikir seperti itu. Dia kerap melintasi tugu tersebut saat bepergian melalui tol. Secara fisik, tidak terlintas tugu tersebut merupakan palu-arit yang jadi lambang PKI. ‘’Nggak bener ini. Omongan politikus nasional itu kesannya malah menyudutkan wilayah Madiun,’’ sergahnya.

Widodo menilai, penyamaan tugu tol dengan palu-arit tidak berdasar. Hanya asal-asalan. Istilah Jawa-nya utak-atik mathuk. Widodo menilai, akan lebih baik jika di kawasan tugu ditambah ikon kekhasan daerah. ‘’Jelas bukan lambang palu-arit itu. Dari pihak tol juga sudah menjelaskan itu branding dan belum selesai dibangun,’’ ungkapnya.

Masyarakat Madiun sudah adem ayem dari sejarah kelam kekejaman PKI. Pada peristiwa PKI 1948, jelas Widodo, warga Madiun sama sekali tidak mendukung pemberontakan. Bahkan, pentolan PKI waktu itu, seperti Arif Syarifudin, Muso, dan Sumarsono, bukan orang asli Madiun. Dari kacamata sejarah, jika warga Madiun mendukung gerakan, maka PKI susah ditumpas. Faktanya, pemberontakan tidak berlangsung lama. ‘’Dari 19 September sampai 30 September 1948, dan gerombolan tertangkap di Kresek,’’ terangnya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button