Bupati Menulis

Trilogi Sejarah Madiun Raya

SAYA gembira saat Prof Peter Carey, guru besar tamu di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, memberi kabar akan terbit buku Antara Lawu dan Wilis. Buku tentang sejarah Madiun dan sekitarnya itu kumpulan tulisan Lucien Adam, residen Madiun 1934–1938. Christopher Reinhart, asisten penelitinya, menghimpun, menerjemahkan, dan menyulam tulisan tersebut.

Buku ini akan menjadi sumbangan besar bagi bangsa. Juga bermanfaat bagi yang ingin memperdalam sejarah, khususnya Madiun Raya. Kehormatan bagi saya karena terlibat dalam pemilihan sampul bukunya.

Saya pernah bertemu Peter Carey di Magetan, 12 Desember 2019. Sebuah anugerah karena dapat berjumpa sejarawan yang piawai menarasikan perang Jawa di dalam tulisannya. Begitu detail dan kaya sumber.

Dalam pertemuan, saya menyampaikan agar menulis sejarah Madiun Raya lebih detail dengan perspektif berbeda. Seperti Madiun dalam Kemelut Sejarah karya Ong Hok Ham, sejarawan di Universitas Indonesia. Buku itu menjadi disertasi yang dipertahankan di Universitas Yale, Amerika Serikat.

Saya sangat berterima kasih kalau bukunya kelak memuat sumber tentang Magetan zaman dulu. Sebab, penulisan sejarah lokal selama ini minim mencantumkan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Selain karena sedikitnya sumber tertulis, jarang yang menguasai bahasa Belanda menjadi kendalanya.

Saya yakin banyak catatan sumber tentang Madiun Raya dari karya Peter Carey terkait perang Jawa, Diponegoro, atau lainnya. Apalagi, akses kepustakaan yang menyimpan informasi tentang Jawa sangat luas. Terutama di perpustakaan Belanda, Inggris, dan lainnya.

Buku Antara Lawu dan Wilis tebalnya 420 halaman. Diawali prolog berupa gambaran sekilas tentang Lucien Adam dan Madiun Raya. Kalau pembaca belum pernah punya gambaran sejarah lokal Madiun Raya, prolog tersebut sangat membantu.

Bab I membawa kita ke masa klasik Madiun Raya dalam kacamata arkeolog tentang gunung keramat Lawu dan Wilis. Dari lanskap keramat hingga temuan di masa Hindu-Buddha atau periode pra-Islam.
Kemudian, bab II membahas Madiun Raya di permulaan periode Islam (1518–1755). Dalam bahasannya, Adam lebih bersandar pada tradisi lisan. Informan lokal memegang peranan penting. Ulasan mengenai Madiun di tengah konflik Mataram (1676–1755) masuk di bab III. Kita akan diberi tahu posisi Madiun saat pemberontakan Trunojoyo (1676–1680) dan Suropati (1685–1706), geger Pacinan (1740–1743), serta perang Giyanti (1746–1757).

Bab selanjutnya tentang Mancanegara Timur pada masa palihan 1755–1825. Palihan itu maksudnya pembagian negeri. Setelah pemberontakan Mangkubumi berakhir dan diakuinya penguasa baru di Jogjakarta, Mataram dibagi dua menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Menarik untuk menyimak Madiun Raya yang menjadi bagian dari kedua penguasa baru itu.

Pada bab V menceritakan kemelut perang Jawa (1825–1830). Situasi pemerintahan Madiun Raya pada masa tersebut tidak kalah menarik. Menilik wilayahnya terdiri kabupaten-kabupaten kecil. Selain itu, sejauh mana keterlibatan penguasa Madiun Raya dalam perang selama lima tahun tersebut.

Buku Antara Lawu dan Wilis melampirkan peran Pesantren Tegalsari dan Banjarsari. Dinamika saat mulai berdiri serta hubungan dengan keraton. Sementara, epilog ditulis Nunus Supardi. Profil Lucien Adam cukup panjang sehingga memberi gambaran lengkap tentang penulisnya.

Yang mengejutkan, ternyata bukan hanya satu buku yang akan diterbitkan, melainkan tiga. Maka, bisa disebut trilogi Madiun Raya. Ketiga buku itu rencananya tidak terbit bersamaan.

Buku kedua judulnya Kisah Brang Wetan yang berdasarkan kisah Babad Alit dan Babad Pacitan. Babad yang selama ini tersembunyi di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia berkat Peter Carey.

Benteng Terakhir Kasultanan Jogjakarta adalah buku ketiga trilogi Madiun Raya. Penulisnya Akhlis Syamsul Qomar, sejarawan, yang direncanakan terbit Maret 2022. Buku tersebut lebih ke biografi Raden Ronggo Prawirodirdjo III, bupati Wedana Mancanegara Wetan.

Saya tak sabar memiliki dan membaca tiga buku itu. Membeli salah satu cara menghargai jerih payah dari para pemrakarsa buku. Bagi masyarakat terpelajar di eks Karesidenan Madiun, apalagi pemerintah daerah, wajib hukumnya memiliki trilogi Madiun Raya. Sebab, buku tersebut menghapus dahaga sumber sejarah lokal wilayah kita. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button