NgawiPeristiwa

Tradisi Gumbrekan Mahesa, Ratusan Kerbau pun Mandi Bareng di Sungai

NGAWI – Zaman boleh semakin modern. Namun, tradisi yang telah mengakar di masyarakat tidak lantas luntur begitu saja. Tanpa kecuali tradisi Gumbrekan Mahesa di Desa Banyubiru, Widodadaren, Ngawi. Wujud syukur warga terhadap keberadaan kerbau yang ada di desa setempat itu tetap lestari hingga kini.

Untuk kali pertama tradisi tersebut dimeriahkan dengan acara bertajuk Karnaval Mahesa. Lebih dari 500 ekor kerbau dikeluarkan, dikumpulkan di lapangan, dimandikan, lalu dikandangkan. ‘’Pemkab akan men-support pelestarian tradisi ini,’’ kata Bupati Budi ’’Kanang’’ Sulistyono, Rabu (5/9).

Ribuan pasang kaki kerbau berderu menuju lapangan desa setempat sekitar pukul 14.30. Berduyun-duyun pula warga menyaksikan acara tersebut. Gong dimulainya acara ditandai sambutan dari Kanang. ‘’Perhutani mengizinkan kawasan hutan untuk beternak kerbau tanpa embel-embel apa pun. Tapi, masyarakat juga tidak boleh lupa untuk menjaga hutan milik negara itu,’’ ungkapnya.

Apresiasi dituturkan Kanang sesaat sebelum menggiring kerbau ke pemandian sungai terdekat. Keberadaan kerbau di Desa Banyubiru –Dusun Bulak Pepe dan Dusun Gadon– telah membudaya. Sudah menjadi rojo koyo bagi warga setempat. Karena itu, sudah selayaknya untuk dilestarikan. ‘’Warga di sini memiliki anggapan kalau kerbau merupakan binatang paling penurut. Dengan kerbau itu juga masyarakat bisa menambah rezekinya,’’ imbuh Kanang.

Kanang dan jajarannya kemarin tampak antusias menyaksikan prosesi Gumbrekan Mahesa hingga usai. Para penggembala dan beberapa warga yang menonton juga antusias memperhatikan. ‘’Sing resik, Pak,’’ ujar Kanang menyapa pemilik kerbau yang tengah memandikan piaraannya.

Agus Priyanto, perangkat desa sekaligus ketua pokdarwis desa setempat, mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 500 ekor kerbau di Desa Banyubiru. Dia menyebut, tradisi Gumbrekan Mahesa merupakan wujud rasa syukur warga terhadap keberadaan ratusan kerbau tersebut. ‘’Bentuk rasa syukur itu diungkapkan dengan cara selamatan,’’ ungkap Pri, sapaan Agus Priyanto.

Untuk mendongkrak potensi wisata desa, akhirnya tercetus ide menggelar Karnaval Mahesa. Ide itu muncul lantaran kerbau-kerbau Desa Banyubiru hafal koloninya serta jam-jam makan, mandi, dan kembali ke kandang. ‘’Karnaval ini untuk memeriahkan. Kalau tradisi selamatan tetap dilakukan di rumah masing-masing pemilik kerbau,’’ jelasnya.

Pri semringah dengan dukungan dan apresiasi yang diberikan Pemkab Ngawi. Dia berharap, tradisi tersebut bisa berkelanjutan. ‘’Ada satu lagi tradisi yang rencananya akan diadakan lagi. Jamasan kerbau dengan blondo (minyak kelapa, Red), tapi perlu menanam kelapanya dulu,’’ ujarnya. (mg8/c1/isd/adv)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button