features

Toyib Nasirudin Nawawi, Getol Mengumpulkan Uang Lawas dan Cacat Produksi

Menahun keranjingan mengoleksi uang pecahan lawas. Tidak peduli alat tukar itu sudah tidak lagi beredar di pasaran. Toh, Toyib Nasirudin Nawawi pernah merasakan keuntungan berlipat dari koleksinya.

ERWIN SUGANDA, Jawa Pos Radar Ponorogo

SUDAH berada di jalan yang benar jika Toyib Nasirudin Nawawi getol mengumpulkan uang. Kendati uang cetakan lama yang tidak lagi beredar di pasaran. Warga Desa Bajang, Mlarak, Ponorogo, itu juga layak disebut kolektor lantaran menyimpan ratusan lembar uang kertas lawas. Belum lagi, uang logam kuno zaman kerajaan. ‘’Sudah mulai mengoleksi sepuluh tahun lebih,’’ kata Toyib membuka percakapan, Rabu (2/6).

Anas –sapaan Toyib Nasirudin Nawawi– awalnya senang barang antik ketika merantau ke Tangerang. Dia kerap mendapat pesanan uang lama untuk mahar pernikahan. Otak bisnisnya ikut berputar. Nilai uang lawas itu ternyata lebih mahal ketimbang nominal aslinya. Mulailah Anas berani menebus barang dari kolektor lain. ‘’Harganya pasti jauh lebih tinggi puluhan tahun ke depan,’’ ujar bapak dua anak itu.

Mengoleksi uang lawas dianggap Anas sebagai bentuk investasi. Dia sempat tunjuk bukti ketika nekat menebus selembar pecahan uang kertas Rp 10 ribu dengan gambar mirip Genderuwo cetakan 1975 seharga Rp 2 juta. Apa lacur? Koleksi uang itu laku hampir dua kali lipat dari harga beli pada 2012 silam. ‘’Karena desainnya dianggap paling bagus sepanjang masa, jadinya mahal,’’ sebut pria berpeci itu.Selain pecahan uang lama yang tak lagi beredar, Anas mengoleksi pula uang keluaran Perum Peruri yang baru dengan kondisi unik. Belum dipotong (uncute) dalam rangkaian empat lembar, misalnya. Selain itu, kesalahan potong saat produksi hingga menjadi daya tarik tersendiri. ‘’Ada kolektor yang memburu uang-uang unik. Kalau harganya pas, koleksi akan saya lepas,’’ ungkapnya.

Anas mengaku memiliki koleksi kesayangan. Yakni, pecahan beberapa nominal uang kertas yang semuanya bergambar Panglima Besar Jenderal Sudirman. Mulai pecahan Rp 1, Rp 2,5 (seringgit), Rp 5, Rp 10, Rp 25, Rp 50, Rp 100, Rp 500, hingga Rp 1.000. Seluruhnya cetakan tahun 1975. ‘’Uang gambar jenderal besar ini yang paling saya suka,’’ akunya. *(hw/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button