Mejayan

Tower Beredel Segel Tidak Hanya di Klitik

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Sistem pengawasan Satpol PP Kabupaten Madiun pasca penindakan lemah. Menara telekomunikasi pemberedel segel diketahui tidak hanya di Desa Klitik, Wonoasri. Lima pemilik tower lainnya ditengarai mengaktifkan kembali layanannya.

Mengelabui petugas sejak operasionalnya dimatikan tahun lalu. ‘’Informasi yang dihimpun, lima tower itu berada di tiga kecamatan,’’ kata Kabid Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kabupaten Madiun Danny Yudi Satriawan Kamis (9/1).

Dari lima titik itu, masing-masing dua tower berlokasi di Kecamatan Wungu dan Madiun. Sisa satu di Jiwan (selengkapnya lihat grafis). Tower mokong itu diketahui hasil patroli petugas ke sejumlah base transceiver station (BTS) yang disegel sejak Oktober 2019. ‘’Tahun lalu ada banyak yang disegel, tapi lima itu terindikasi beroperasi kembali,’’ ujarnya.

Danny menyatakan, tindakan tegas akan diberikan kepada lima tower bandel itu. Selain penyegelan ulang, lembaganya juga akan memutus sambungan listrik operasionalnya. Sebagaimana yang telah dilakukan pada tower di Desa Klitik. Bedanya, segel nantinya tidak sebatas menempelkan stiker pada kotak miniature circuit breaker (MCB) dan pagar. ‘’Kami segera berkoordinasi dengan PLN dan kepolisian,’’ tuturnya.

Menyikapi temuan itu, satpol PP bakal mengecek secara menyeluruh tower yang disegel tahun lalu. Alasan penyegelan kala itu karena belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). ‘’Sampai saat ini belum ada pemberitahuan dari dinas terkait untuk keberlanjutan perizinannya,’’ terang Danny. (den/c1/cor)

Terungkap karena Baterai Lenyap

KEMBALI aktifnya tower di Desa Klitik, Wonoasri, terungkap dari hilangnya delapan baterai menara telekomunikasi itu. Polsek Wonoasri menerima laporan kasus tersebut Sabtu lalu (4/1). Pelapornya Yanto, 23, teknisi, dan Eko Andi Purnomo, 33, pemilik tower yang disegel satpol PP tersebut. ‘’Ketika di lokasi kami melihat ada segel, kemudian dikomunikasikan dengan dinas terkait,’’ kata Kanitreskrim Polsek Wonoasri Ipda Haryo Sutrisno Kamis (9/1).

Haryo menerangkan, Eko yang pertama tahu hilangnya baterai dengan nilai kerugian ditaksir Rp 8 juta tersebut. Temuan itu diteruskan ke Yanto. Sebelum akhirnya masuk berita acara pemeriksaan (BAP). Kala olah tempat kejadian perkara (TKP), pihaknya mendapati satu dari tiga kotak baterai dalam posisi tercongkel. ‘’Mur dan baut dari kotak baterai itu diamankan sebagai barang bukti (BB),’’ ujarnya.

Dia menduga pelakunya profesional. Sebab, mampu mengobok-obok boks yang dipenuhi kabel beraliran listrik untuk mengambil baterai. Hasil menghimpun keterangan warga, pelaku ditengarai berjumlah empat orang. Semuanya laki-laki. Mereka melancarkan aksi dengan mobil Toyota Avanza warna hitam. ‘’Ada warga yang melihat pada 20 Desember lalu. Tidak curiga karena mengira petugas tower,’’ ungkapnya. (den/c1/cor)

PLN ULP Caruban Buang Badan

PERUSAHAAN Listrik Negara (PLN) buang badan atas kembali aktifnya tower tersegel di Desa Klitik, Wonoasri, Kabupaten Madiun. Perusahaan setrum itu mengklaim tidak ada pihak internal yang menghidupkan kembali saluran listrik menara telekomunikasi bodong tersebut. ‘’Tidak ada dari kami yang menyalakannya,’’ kata Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Caruban Reza Ardiansyah Kamis (9/1).

Reza menyatakan, pihaknya memang diajak satpol PP menyegel tower Desa Klitik, Oktober 2019. PLN diminta memutus sambungan listrik yang terdiri tujuh KWh meter. Namun, pemutusan itu bukan berarti mematikan aliran listriknya. Melainkan sekadar meng-off-kan sakelar pada miniature circuit breaker (MCB). Kotak peranti itu lantas ditempeli stiker segel. ‘’Karena tidak digembok, siapa pun bisa membuka segel dan menyalakan lagi MCB itu,’’ ujarnya.

Menurut dia, pengaktifan aliran listrik bisa dilakukan tidak hanya petugas PLN. Seseorang yang punya keahlian elektro atau sekadar paham kelistrikan bisa melakukannya. ‘’Hingga kini belum ada permohonan yang datang untuk penyambungan kembali listrik tower,’’ tuturnya.

Reza menyebut, pihaknya tidak melakukan pengecekan khusus terhadap tower bermasalah itu. Dalam kasus tower di Desa Klitik, pemiliknya punya catatan tertib membayar tagihan listrik. Tower bersistem pascabayar.

Sehingga, ketika pemilik membayar tagihan pasca penyegelan, pihaknya tidak menyadari bahwa tower itu sudah dimatikan sementara aliran listriknya. ‘’Tower menggunakan AMR (autometer reading, Red) yang terbaca otomatis oleh sistem. Tidak perlu petugas datang mencatat, dan penagihan langsung dari sistem itu,’’ paparnya seraya menyebut tagihan listrik tower Desa Klitik Rp 1 juta lebih per Desember 2019. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close