features

Totalitas Fakom Jadi ’’Penyambung Lidah’’ Remaja

Kiprah remaja Kota Madiun di bidang sosial tak bisa dipandang sebelah mata. Fakom, misalnya, memainkan peran sebagai jembatan merealisasikan keinginan remaja ke pemangku wilayah setempat sekaligus agar mereka mendapatkan hak-haknya.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

FORUM Anak Kota Madiun (Fakom) terbentuk sejak 2014 silam. Anggotanya kalangan pelajar mulai kelas VII SMP hingga X SMA. Misinya adalah menjembatani remaja agar dapat menyampaikan aspirasi ke pemerintah sekaligus mendapatkan hak-haknya. ”Angkatan pertama anggotanya para ketua OSIS. Kalau sekarang pakai sistem open recruitment. Total membernya 80-an,” kata Wakil Ketua Fakom Aledya Anastasi Wijaya, Rabu (28/7).

Forum tersebut memiliki misi sebagai pelopor sekaligus pelapor. Yakni, memelopori remaja di Kota Madiun menjalankan aktivitas yang positif. Sedangkan dari sisi pelapor, berani melaporkan kasus yang dialami ke dinas sosial setempat. ‘’Kami sudah ada psikolog jika dibutuhkan untuk melakukan pendampingan,’’ ujarnya.

Sayangnya, sejauh ini belum banyak korban yang berani melapor. Itu tidak terlepas dari sikap mereka yang cenderung menutup diri saat mengalami kasus tertentu. ‘’Mungkin takut atau gimana gitu,’’ kaya Aledya. ‘’Ya harus sabar membujuk agar mau cerita,” imbuh gadis 18 tahun itu.

Selama ini kasus paling banyak yang muncul di permukaan adalah bullying. Mulai kategori ringan hingga yang terparah verbal abuse (pelecehan verbal). Mayoritas menimpa siswi SMP. ”Kebanyakan korban sebatas berani cerita dan minta saran ke kami,” imbuh Tsabitania Putri Salsabila, bendahara 2 Fakom.

Sejauh ini Fakom juga telah berhasil memfasilitasi keinginan remaja ke pemkot. Sebut saja fasilitas bus sekolah gratis, wifi, dan jalur sepeda. ”Aspirasi teman-teman kami sampaikan di musrenbang, baik tingkat kelurahan, kecamatan, maupun kota,” jelas Tania, sapaan akrab Tsabitania Putri Salsabila.

Sementara, aspirasi yang belum tersampaikan di antaranya taman yang ramah anak. ‘’Di Kota Madiun memang banyak taman dengan fasilitas lengkap, tapi orang-orang bebas merokok di sana. Itu yang kami sayangkan,” kata gadis 16 tahun tersebut.

Sejak pandemi korona melanda, kegiatan Fakom yang awalnya terbilang padat menjadi menurun drastis. Sebelum ada wabah, mereka kerap menggelar berbagai acara. Mulai pelatihan kepribadian hingga sosialisasi seputar dampak negatif pernikahan dini. ”Sekarang lebih sering gabung webinar atau sebatas komunikasi melalui grup media sosial,” ungkapnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button