Mejayan

Tolak Tes Swab, Pasien Meninggal di Jalan

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Sebuah video viral di media sosial (medsos) belakangan ini. Video ber-setting di jalan raya dan menayangkan empat orang di bak kendaraan roda tiga yang sedang berjalan. Tidak hanya gambar begerak, tapi juga terdengar suara lantang.

‘’Iki dulur lanangku ges, wi ges, muleh ko panti (RSUD Caruban, Red). Arep di-swab gak oleh aku. Saiki dadi mayit. Elengo ges, awake dewe wong ra gablek yo. Kilo, rakyate ngene iki.’’

Si perekam diduga tidak puas dengan pelayanan RSUD Caruban. Sementara pihak rumah sakit memastikan telah memperlakukan pasien tersebut sesuai prosedur. ‘’Pihak keluarga menolak dilakukan tes swab kepada pasien. Padahal itu prosedur semua rumah sakit saat pandemi seperti sekarang ini,’’ kata Humas RSUD Caruban Yoyok Andi Setyawan, Selasa (27/7).

Diketahui pasien pria itu berinisial T, 45, warga Desa Kenongorejo, Pilangkenceng. Yoyok mengatakan, pasien datang ke RSUD Caruban pada Senin (26/7) pukul 14.40. Kemudian memutuskan pulang setelah anggota keluarga yang ikut mengantar menolak dilakukan tes swab antigen kepada pasien. ‘’Pasien itu pulang pukul 15.34,’’ ujarnya.

Informasinya, pasien itu meninggal dunia dalam perjalanan pulang di atas bak kendaraan roda tiga. Seperti tampak dan terdengar dalam video yang viral itu. Si perekam mengatakan bahwa pasien sudah menjadi mayit alias telah meninggal dunia. ‘’Sebelum pulang, kami juga sudah menjelaskan kepada pihak keluarga tentang berbagai kemungkinan mengingat kondisi klinis pasien,’’ beber Yoyok.

RSUD Caruban mengklaim kondisi T saat itu sudah parah. Pasien datang sudah dalam kondisi hilang kesadaran. Pun, perut membuncit, sesak napas, dan mual-mual. Pasien butuh rawat inap. Sementara, salah satu prosedur yang harus dilalui sebelum mendapat kamar adalah di-swab. Selain indikasi klinis, tes swab juga merupakan prosedur wajib sebelum pasien rawat inap. ‘’Diagnosis pasien adalah sirosis hepatis (liver). Tapi, swab itu untuk memastikan pasien perlu dirawat di ruang isolasi atau tidak. Semua rumah sakit prosedurnya sama seperti itu,’’ klaimnya.

Atas kejadian itu, pihak RSUD Caruban enggan disudutkan. Menurut Yoyok, video yang viral itu merugikan pihaknya. Sebab, informasi di video tidak utuh. Sehingga, menimbulkan persepsi beragam. Termasuk citra rumah sakit jadi buruk di mata masyarakat.

Kendati demikian, RSUD Caruban masih setengah hati untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum. ‘’Akan kami kaji dan pelajari lagi mengenai itu (ranah hukum, Red). Yang jelas, kami amat menyayangkan video tersebut,’’ sesalnya.

Camat Pilangkenceng Eko Suwartono menyebut bahwa perekam video adalah keluarga pasien. Perekam terkesan tidak puas pelayanan RSUD Caruban. ‘’Hari ini (kemarin, Red) tiga pilar mendatangi rumah yang bersangkutan. Sudah diberi penjelasan terkait prosedur rawat inap rumah sakit seperti itu, harus di-swab lebih dulu,’’ tegas Eko.

Eko mengklaim sudah tidak ada masalah terkait video viral tersebut. Pihak keluarga pasien sudah menerima penjelasan yang diberikan. Mereka juga berkenan saat tim medis melaksanakan tracing. ‘’Sesuai perintah Pak Bupati, rapid test dilakukan kepada delapan orang. Baik keluarga pasien maupun yang kontak erat. Hasilnya, semua negatif,’’ terang camat. (den/c1/sat/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button