Magetan

Tirakat Kopi Sediakan Dua Menu dengan Bayar Seikhlasnya

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Rekasa utawa penake urip gumantung ana ambane ati, ora mung akehe bathi. Artinya, susah senang hidup tergantung dari kelapangan hati, bukan hanya dari banyaknya untung. Kalimat itu terpampang di gelas Tirakat Kopi, kedai yang tak punya daftar harga. ‘’Bayar seikhlasnya. Harganya manut sama yang beli,’’ kata Anggi Rahadian Prasetyono, pemilik kedai.

Tirakat Kopi berlokasi di Jalan Yosonegoro. Buka mulai pukul 07.00 sampai 11.00. Hanya ada dua menu: kopi susu atau kopi hitam. Bisa dingin atau panas. Harganya terserah pembeli. Uang dimasukkan ke kaleng bekas rokok. Tidak membayar juga boleh. ‘’Pernah sehari hanya dapat Rp 20 ribu. Sebulan ini Rp 150 ribu,’’ ujar mantan pegawai bank itu.

Tirakat Kopi menempati kedai Jelaga Kopi yang juga milik Anggi. Selain di Jalan Yosonegoro, Anggi juga membuka Jelaga Kopi di Jalan MT Haryono. Ketika Tirakat Kopi tutup pukul 11.00, nama kedai berganti jadi Jelaga Kopi. Jika sudah berganti nama, maka setiap menu ada harganya. ‘’Sesuai namanya, dengan tirakat kita belajar mengikhlaskan sesuatu,’’ tuturnya.

Tirakat Kopi dibuka justru pada saat situasi sedang sulit-sulitnya. Pandemi memaksa Anggi menutup cabang Jelaga Kopi di Jalan MT Haryono dan merumahkan karyawannya. Pendapatannya kini hanya mengandalkan cabang Jelaga Kopi di Yosonegoro yang buka usai Tirakat Kopi tutup. Tujuan Anggi sederhana. Dia ingin orang-orang tetap menikmati kopi meski sedang dilanda kesusahan. ‘’Dari pandemi kita belajar untuk lebih ikhlas, daripada selalu berekspektasi tinggi terhadap segala sesuatu,’’ ucapnya. *(naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close