Advertorial

Tingkatkan Produktivitas Padi, Airlangga Dukung Konsep Millennial Smart Farming

KLATEN – Sektor pertanian menjadi perhatian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Pada Jumat (24/9) lalu di Klaten, dia sempat meninjau lahan persawahan yang dikembangkan oleh petani milenial dengan konsep smart farming. Di mana proses bercocok tanam padi dilakukan dengan menggunakan teknologi.

Program millennial smart farming merupakan pemberdayaan anak-anak muda melalui pembinaan dan pengembangan ekosistem pertanian digital (IoT) dari hulu ke hilir. Serta meningkatkan inklusi keuangan desa.

Program ini bertujuan mengimplementasikan pertanian cerdas dengan penerapan digitalisasi menggunakan Internet of Things (IoT). Dengan begitu, akses pasar terbuka bagi petani. Sehingga penghasilan mereka terjamin. ‘’Program millennial smart farming diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian,’’ kata Airlangga.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga sempat berdialog dengan Hartoyo, salah seorang petani milenial. Sebelum jadi petani, Hartoyo pernah kerja kantoran di Jakarta. Namun, saat ini, dia menekuni pertanian karena penghasilan yang diperoleh dari sektor ini besar.

Adapun mekanisme pertanian yang dijalankan oleh Hartoyo itu berbasis aplikasi. Selain itu, juga didukung tenaga surya. Praktik itu telah dilakukan Hartoyo selama tiga bulan terakhir. Aplikasi dan alat sensor cuaca dibuat oleh sebuah perusahaan rintisan anak bangsa.

Sebelum sistem pertanian digital tersebut digunakan secara luas oleh petani milenial. Perusahaan rintisan tersebut mencetuskan konsep Smart Farming 4.0 yang menjadi pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada gelaran Hannover Messe 2020.

Konsep Smart Farming 4.0 memberi jalan keluar bagi petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Caranya adalah dengan menggunakan alat sensor dan aplikasi, yang memberikan informasi yang dapat membantu petani untuk meningkatkan produksi pertanian, termasuk mengurangi pemakaian pupuk dan air.

Konsep tersebut menjadi dasar menciptakan aplikasi mobile yang berbasis teknologi pertanian untuk membantu pencatatan sistem bertani, memilih pedoman budidaya, serta penanganan dan pengolahan pertanian yang baik. Meningkatkan efisiensi pertanian dengan lebih mudah dan hemat namun dapat menghasilkan panen secara maksimal, disamping itu petani juga dapat dengan mudah mendapatkan akses mitra dan pasar yang tepat.

Pada kesempatan itu, Airlangga juga sempat menanam padi secara simbolis menggunakan treventer. Dia sempat pula mesosialisasikan terkait bantuan KUR dari pemerintah bagi petani. ‘’Hasilnya dengan sistem ini (produksi padi) bisa antara 6–7 ton per hektare. Kalau semuanya menggunakan teknologi diharapkan produktivitas akan lebih tinggi lagi, apalagi sudah menggunakan alsintan otomatis untuk penanaman,’’ kata Airlangga. (don/her/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button