Magetan

Tinggal 100 Meter, Pembangunan Jalan Tembus Mandek

DPUPR Tunggu Disperindag Pindahkan Pedagang Kayu

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Proyek lanjutan pembangunan jalan tembus pasar sayur Magetan dipastikan  mandek. Tahun ini dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) setempat kembali tak menganggarkan proyek dari Jalan Kapten Tendean ke Jalan Mayjend Sungkono itu. Padahal, tinggal 100 meter lagi.

Menurut Sekretaris DPUPR Magetan Muchtar Wahid, penyebabnya bukan anggaran minim di dinasnya. Melainkan karena organisasi perangkat daerah (OPD) lain. Yakni, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan yang tidak kunjung memindahkan pedagang kayu di kawasan itu.

Akibatnya, DPUPR tak bisa melebarkan ruas jalan tersebut. Pihaknya tidak bisa mengusir belasan pedagang kayu terdampak pembangunan jalan. ‘’Kami masih menunggu teman-teman dari disperindag. Sampai sekarang (pedagang kayu) belum dipindahkan,’’ kata Muchtar Selasa  (14/1).

Sejatinya, DPUPR ingin melanjutkan pembangunan jalan itu. Namun, jika harus mengusir pedagang kayu dikhawatirkan terjadi gejolak. Sehingga, pihaknya pasif menunggu langkah disperindag. Mengingat, OPD itu sudah menyiapkan kios pedagang kayu baru. Setelah mereka pindah, paling cepat pembangunan akan dilanjutkan 2021. ‘’Kalau itu sudah dibongkar, gampang. Tinggal melanjutkan,’’ ujarnya.

Pembangunan jalan tembus juga bakal mengorbankan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan. Satu bangunan rumah composting yang menghadap ke barat harus dibongkar. Sedangkan bangunan di sebelah utaranya untuk pengelolaan sampah bantuan black soldier fly (BSF) masih aman. ‘’Sedikit yang terbongkar, tapi tetap bisa digunakan,’’ ungkapnya.

Lebar jalan tembus direncanakan mencapai 22 meter. Sisi kanan dan kiri bakal dilengkapi trotoar. Sehingga, deretan warung di sisi jalan juga berpotensi terdampak. Pihaknya pun menyerahkannya kepada disperindag agar dicarikan solusi. Mereka harus dipindahkan namun tetap bisa berjualan. Jangan sampai pembangunan Magetan malah membuat masyarakat kehilangan penghasilan. ‘’Pedagangnya jadi wewenang disperindag, jalannya kami,’’ jelasnya.

Pengembangan jalan tembus itu bergulir sejak 2015 silam. Rencana awal, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 13 miliar. Saat itu pemkab fokus persiapan lahan dan pemindahan lapak pedagang. Pada 2016 DPUPR mengalokasikan anggaran Rp 5 miliar untuk pembangunan badan jalan dan saluran air. Belum pengaspalan.

Sedangkan 2017 silam, DPUPR kembali mengucurkan anggaran Rp 3,6 miliar untuk melanjutkan pembangunan. ‘’Pembangunannya memang bertahap. Karena permasalahan di lokasi tersebut kompleks,’’ pungkasnya. (bel/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close