Bupati Menulis

Tiga Tahun Memimpin Magetan

TIGA tahun sudah. Pada 24 September 2018, saya dan Bu Nanik dilantik sebagai bupati dan wakil bupati Magetan oleh gubernur. Kalimat apa yang tepat untuk disampaikan sekarang? Menurut hemat saya, permintaan maaf. Bukan kalimat lain.

Di berbagai tempat, saya sering mengatakan bahwa periode pemerintahan saya memang kurang beruntung. Karena beberapa program yang mestinya harus dilaksanakan tertunda. Kalaupun terlaksana, waktu penyelesaiannya bertambah. Bukan mencari pembenar. Namun, itu kenyataannya. Semua bisa melihat dan merasakan.

Ketika saya dilantik, APBD Kabupaten Magetan 2018 dan 2019 sudah ditetapkan pemerintahan sebelumnya. Saya tinggal menjalankan program-program. Tentu harus pandai-pandai memoles atau mengalihkan peruntukannya tanpa melanggar ketentuan sesuai visi dan misi.

APBD 2020 kesempatan kami untuk lebih fokus. Program-program disiapkan. Kepentingan masyarakat luas diutamakan. Semangat menjadikan Magetan lebih maju dikedepankan.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tiba-tiba, Januari 2020, diumumkan virus baru di Wuhan, Tiongkok. Bahkan, pada 2 Maret 2020 dinyatakan oleh presiden sudah masuk ke Indonesia. Lalu, 11 Maret 2020 masuk Magetan. Kabupaten pertama di Jawa Timur bersama Surabaya dan Malang yang diserang Covid-19.

Nyawa harus menjadi prioritas pertama. Semua program ditangguhkan. Anggaran di-refocusing. Namun, ekonomi harus berjalan. Saya sering mengatakan, jangan bekerja business as usual atau bekerja biasa saja. Hasilnya tentu juga biasa. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Harus kreatif dan inovatif.

Untuk menyadarkan ASN di lingkungan birokrasi Magetan, saya sering mengatakan bahwa hampir semua dari kita lahir di Magetan. Besar dan makan-minum dari Bumi Mageti. Sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah atas juga di Magetan. Punya teman di Magetan. Bekerja di Magetan. Punya istri dan suami juga orang Magetan. Besok kalau pensiun juga akan tinggal di Magetan. Insya Allah, kalau sudah waktunya dipanggil, akan dikebumikan di Magetan. Kalau kemudian tidak berlomba-lomba membuat kebaikan di Magetan, terus alasannya apa?

Kalimat tersebut saya tekankan kepada ASN ketika mengikuti diklat pra jabatan. Mumpung ASN baru. Agar memiliki jiwa mengabdi yang tinggi dan memiliki program dan pemikiran out of the box. Kalau semua OPD mempunyai cara berpikir dan bertindak out of the box dan menciptakan satu center of excellence, banyak program unggul yang akan muncul.

Kalau tidak bisa membuat keunggulan, silakan mereplikasi dari tempat lain. Replikasi bukan aib. Justru tidak terlalu berisiko gagal. Karena tidak perlu coba-coba. Sudah ada best practice yang dapat ditiru. Berapa banyak program baik yang telah dilakukan pemerintah daerah di negeri ini.

Malah saya sering mencontohkan kehebatan cara berpikir dan bertindak Mbok Suryani dan Mbok Setu, pengusaha ayam panggang Gandu. Tempatnya tersembunyi. Di bawah pohon bambu. Di tengah kampung melalui jalan sempit. Pendidikan formalnya tidak sehebat kita. Namun, bisa menciptakan keunggulan luar biasa. Orang sampai keraya-raya (bersusah payah) datang ingin menikmati sajian ayam panggang yang khas.

Saya sudah lama bekerja di birokrasi. Lebih dari tiga puluh tahun. Saya juga heran, kok membuat program bagus. Birokrasi itu sebagian besar tidak mencari uang. Menghabiskan uang saja tidak maksimal (kalau tidak bisa dikatakan tidak bisa). Setiap tahun presiden selalu mengingatkan. Anggaran segera diserap agar uang segera beredar di masyarakat. Ekonomi bergerak. Apalagi di tengah pandemi dan situasi ekonomi yang sulit.

Zalim rasanya kalau uang rakyat tidak segera beredar di masyarakat. Namun, persoalan serapan anggaran tidak sederhana. Banyak sebab yang membuat serapan selalu mbendhol mburi. Serapan tinggi selalu berulang setiap tahun di bulan Oktober-Desember.

Banyak kesempatan pada acara audiensi, diskusi, atau kesempatan berbicara di sebuah kegiatan bersama semua elemen masyarakat. Saya sering mengatakan bahwa Magetan sudah banyak masalah. Maka, jangan menambah masalah. Tapi, mari menjadi bagian yang ikut memecahkan masalah. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat pada orang lain?

Kalau hanya mencari masalah atau kekurangan, begitu keluar rumah kita semua gampang bertemu masalah. Artinya, semua masalah tidak mungkin dapat diselesaikan oleh pemerintah. Apalagi hanya lima tahun. Bahkan hanya tiga tahun. Sepatutnya semua komponen dengan tugas dan fungsinya masing-masing bahu-membahu membuat kebaikan. Baik media, wartawan, LSM, organisasi sosial, pemuda, orang tua, maupun masyarakat luas.

Saya bukan membela diri. Saya juga sering ditanyai media, apa yang sudah dicapai selama tiga tahun memimpin Magetan? Saya tentu tidak bisa menjawab dan tentu tidak pernah akan menjawab. Yang berhak menjawab bukan saya, melainkan masyarakat Magetan. Dan, pasti itu jawaban yang baik dan benar. Apa pun penilaiannya, tentu saya harus menerima. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button