MadiunPendidikan

Tiga Sekolah Bersiap Tatap Muka

Cabdindik Pastikan Pembelajaran Patuhi Protokol Kesehatan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun –  Tiga sekolah di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Madiun akan mengujicobakan pembelajaran tatap muka pada 18 Agustus mendatang. Yakni, SMAN 2 Kota Madiun, SMKN 3 Kota Madiun, dan SLBN Manisrejo.

Keputusan itu mendasar penyesuaian surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yang mengizinkan daerah berstatus zona hijau dan kuning untuk melakukan pembelajaran tatap muka. ‘’Akan kami uji cobakan selama dua pekan. Mulai 18-31 Agustus,’’ kata Kepala Kantor Cabdindik Madiun Supardi.

Beberapa hari menjelang uji coba itu, Cabdindik Madiun terus melakukan pemantauan. Guna memastikan tiga sekolah yang ditunjuk benar-benar siap dijadikan percontohan. ‘’Semuanya sudah melengkapi syarat protokol kesehatan,’’ ujarnya.

Rabu (12/8) cabdindik bakal melampirkan hasil pemantauan untuk dimohonkan izin ke Pemkot Madiun. Di masa uji coba ini, kuota siswa yang diperbolehkan masuk hanya 50 persen. Sehingga, dari total 36 murid, hanya diisi 15-18 di setiap satu rombongan belajar (rombel)-nya. ‘’Untuk zona kuning hanya 50 persen yang diperbolehkan masuk. Zona hijau boleh lebih. Kalau zona merah belum diizinkan,’’ terangnya.

Pihak sekolah juga harus benar-benar memastikan telah mendapatkan izin dari orang tua. Jika ada orang tua yang belum mengizinkan, pembelajaran tatap muka tak bisa dipaksakan. ‘’Persetujuan orang tua jadi syarat utama,’’ tegasnya.

Supardi menjelaskan, uji coba pembelajaran tatap muka ini untuk mempersiapkan pembukaan pembelajaran secara serentak pada September mendatang. Dari uji coba akan diketahui evaluasi untuk menyiapkan pembelajaran tatap muka di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) nantinya. ‘’Jika ada penularan di lingkungan sekolah, akan kami tutup dan menunda jadwal tatap muka serentak,’’ jelasnya. (mg3/c1/fin)

SMA Terapkan Ganjil-Genap, SMK Sangat Butuh Praktik

TIGA sekolah di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Madiun siap uji coba pembelajaran tatap muka. Sejak beberapa hari terakhir telah melakukan persiapan fasilitas dan skema pembelajaran sesuai protokol kesehatan.

Kepala SMAN 2 Kota Madiun Pramujo Budiarto menegaskan telah menyiapkan standar protokol kesehatan secara matang untuk uji coba sehari setelah hari kemerdekaan mendatang. Alur masuk dan keluar siswa, guru, dan pegawai dibedakan. ‘’Dari total 955 siswa, nanti yang masuk hanya sekitaran 450 siswa,’’ terangnya.

Pramujo pun berjanji bakal melakukan pengawasan ketat dengan memberdayakan pekerja dan pegawai sekolah. Pihak sekolah juga menyediakan masker dan face shield yang akan digunakan selama proses pembelajaran. ‘’Namanya anak-anak, pasti senang kalau main dan bergerombol. Jadi, pengawasannya akan diperketat,’’ tegasnya.

Sistem masuk menggunakan sistem ganjil genap. Setengah dari jumlah rombel masuk bergantian. Sehari tatap muka di sekolah, sehari daring dari rumah. Sistem ganjil-genap itu disesuaikan dengan tanggal kalender. Jika jadwalnya tanggal genap, maka siswa yang masuk merupakan siswa yang mempunyai absen angka genap. Pun sebaliknya. ‘’Meskipun ada yang belajar di sekolah dan rumah, materi pembelajarannya tetap sama,’’ jelasnya.

Pramujo juga telah mendapat restu dari 95 persen wali murid. Pihaknya berjanji bakal menutup pembelajaran tatap muka kembali, jika di lingkungan sekolahnya terdapat penularan kasus baru. ‘’Kalau memang membahayakan, kami siap menghentikan. Harus siap dengan kondisi paling buruk,’’ ungkapnya.

SMKN 03 Kota Madiun juga melakukan persiapan serupa. Standar protokol kesehatan telah dipersiapkan menyongsong rencana pembelajaran tatap muka. ‘’Kami akan lebih memfokuskan pembelajaran tatap muka untuk praktikum. Bagaimanapun, siswa SMK sangat perlu praktik,’’ kata Lilik Hanuryani, koordinator Tata Usaha SMKN 03 Kota Madiun.

Fokus penerapan protokol kesehatan nantinya juga diutamakan pada 13 laboratorium di SMKN 03 Madiun. Pengaturan jarak antarsiswa saat praktikum benar-benar diperhatikan. ‘’Untuk pembelajaran teori lebih banyak dilakukan secara daring (dalam jaringan, Red),’’ jelasnya.

Sedangkan di SLBN Manisrejo nantinya hanya akan memasukkan 20 siswa dari jenjang SD maupun SMP. Murid yang diizinkan sesuai pilihan sekolah. Mempertimbangkan keterbatasan fisik, siswa yang dipilih setidaknya mampu menerapkan standar protokol kesehatan. ‘’Tatap muka hanya 20 dari 60-an siswa,’’ kata Kepala SLBN Manisrejo Siswanto. (mg3/c1/fin)

Pemkot Tak Gegabah Buka Sekolah

ZONA kuning tetap dipandang sebagai warning. Karena itu, Pemkot Madiun tak ingin gegabah merespons kelonggaran yang diberikan pusat lewat Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri.

Wali Kota Madiun Maidi dengan tegas menyatakan pembelajaran tatap muka tetap ditangguhkan. Dia meminta pembelajaran jarak jauh (PJJ) tetap dioptimalkan. Apalagi pemkot telah memfasilitasi sarana-prasarana pendukung berupa laptop dan spot wifi gratis di 1.300-an titik. ‘’Pembelajaran daring dari rumah sudah bagus. Saya sudah meninjau langsung ke rumah siswa,’’ kata Maidi.

Aspek kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama. Maidi tak ingin bertaruh risiko dengan membuka kembali pembelajaran tatap muka. Karena itu berpotensi memunculkan klaster penyebaran baru dari sekolah. Mengingat tren penambahan kasus baru masih terus bermunculan di kota ini. ‘’Kami tidak grusa-grusu. Tren positif naik. Jangan sampai ada klaster sekolah. Ini berbahaya,’’ ujarnya.

Jika sampai klaster sekolah terbentuk, penanggulangannya bakal lebih berat. Pun, rentan menimbulkan trauma di kalangan siswa maupun orang tua. Jika sudah begitu, pemulihannya tidak sebentar. ‘’Kalau sudah trauma menghambat berbagai upaya ke depannya. Kami tidak ingin seperti itu,’’ tegasnya.

Maidi tetap menginstruksikan dinas terkait menyiapkan pola yang bakal diterapkan. Apakah nantinya diberlakukan secara bertahap. Opsinya, siswa kelas VI SDN dan IX SMPN terlebih dulu masuk sekolah sekali atau dua kali dalam sepekan. Itu pun wajib seizin orang tua. ‘’Polanya seperti apa, masih kami rumuskan,’’ ujarnya.

Maidi juga ingin mengukur tingkat kekebalan daya tahan tubuh anak selama dua pekan terakhir. Anak diharapkan makan telur, susu, dan buah untuk meningkatkan imun. Sebagaimana yang disosialisasikannya beberapa waktu terakhir.

Sekolah Agama Satu Suara Larang Pembelajaran Tatap Muka

BERBAGAI kendala dalam PJJ disadari berbagai pihak. Hal itu juga melatarbelakangi Kemendikbud menerbitkan keputusan Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Tiap satuan pendidikan dibebaskan menggunakan kurikulum darurat ini sesuai kebutuhan peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun Heri Wasana mengaku masih melakukan penyesuaian kurikulum berdasarkan keputusan tersebut. Beberapa hari terakhir pihaknya menggelar workshop bagi satuan pendidikan. Output yang hendak dicapai, guru di semua jenjang sekolah dapat mengoptimalkan PJJ. ‘’Untuk kurikulum masih kami bahas. Aktivitas belajar-mengajar tetap berjalan,’’ katanya.

Kepala Kemenag Kota Madiun Ahmad Munir juga mulai melakukan monitoring dan evaluasi ke madrasah dalam rangka penyesuaian kurikulum. Munir meminta madrasah menerapkan kurikulum darurat menyesuaikan dengan kondisi peserta didik. Artinya, guru sebagai ujung tombak wajib menyesuaikan kebutuhan materi berdasarkan kondisi peserta didik. Baik dari sisi sarana-prasarana pendukung hingga kondisi orang tua yang mendampingi proses pembelajaran. ‘’Pemberian materi harus disesuaikan kondisi,’’ ujar Munir.

Munir paham posisi guru sebagai kunci kelancaran pelaksanaan PJJ. Mengingat berbagai kendala masih banyak dialami. Mulai peserta didik kesulitan menyerap materi hingga kesulitan sarana pendukung pembelajaran daring. ‘’Kami menyadari betul berbagai kendala yang muncul di lapangan. Tapi, kami tegaskan yang menjadi acuan kurikulum darurat itu, pokok bahasan yang disampaikan merupakan pokok yang esensial,’’ terangnya.

Munir membeberkan tiga upaya yang dia tempuh untuk menjawab problem di lapangan. Pertama, penguatan pemahaman guru. Menurutnya, guru harus paham metode dan strategi yang harus dilakukan. ‘’Kalau guru tidak paham, ya semakin susah,’’ ungkapnya.

Kedua, guru wajib membangun komunikasi secara intens. Komunikasi menjadi prinsip dalam PJJ. Mulai komunikasi guru dengan siswa, siswa dengan orang tua, maupun guru dengan orang tua. ‘’Jika komunikasi yang dibangun kurang baik, tidak saling tatap muka semakin jadi kendala,’’ sebutnya.

Ketiga, guru wajib memilih strategi yang tepat menyesuaikan kondisi saat ini. Ketiga upaya itu harus dioptimalkan seluruh guru. Apalagi mendasar pada keputusan Kemendikbud perihal kurikulum, guru dibebaskan beban jam mengajar. ‘’Setidaknya bisa membuat guru lebih optimal untuk menerapkan PJJ,’’ tuturnya.

Munir pun satu suara dengan keputusan wali kota untuk menunda pembelajaran tatap muka. Bahkan, Munir telah menginstruksikan larangan pembelajaran tatap muka bagi madrasah di bawah kewenangan lembaganya. ‘’Madrasah dilarang mengadakan pembelajaran langsung atau tatap muka,’’ tegasnya.

Munir membeberkan pertimbangan larangan tersebut. Pertama, menyesuaikan SKB Empat Menteri. Kedua, berdasarkan informasi dari Kanwil Jatim yang menyatakan belum adanya daerah yang dinyatakan sebagai zona hijau di provinsi ini. Ketiga, memperhatikan keselamatan dan kesehatan siswa serta menekan risiko penyebaran virus di daerah. ‘’Tetap pembelajaran daring,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button