featuresMejayan

Tiap Hari Charge Handphone ke Kampung Tetangga

PIJAR dua buah teplok yang digantung di tiang dan atas meja redup. Tidak sepenuhnya menerangi ruang dapur Suyati. Empat sudut dari ruang seluas 3×5 meter itu tetap gulita. Cahaya dari alat penerangan tradisional yang bekerja dengan sumbu dan bahan bakar minyak di malam itu hanya cukup menerangi aktivitas Suyati menumbuk biji kopi. ‘’Sudah biasa gelap-gelapan,’’ katanya.

Dalam temaram, Suyati masih telaten menumbuk biji kopi. Matanya jeli mengayak bubuk kopi di kegelapan. Lain hari, Suyati membuat gaplek dari singkong. Tergantung ketersediaan bahan yang bisa diolah kala surya telah tenggelam. ‘’Dikonsumsi sendiri, tidak dijual,’’ ujar warga Lingkungan Sekalus, Dusun Poleng, Desa Cermo, Kecamatan Kare, tersebut.

Bagi perempuan yang tak ingat lagi usianya itu, aktivitas dapur biasa dilakoni selepas magrib. Sebagai pelipur penat setelah seharian bercocok tanam di ladang. Itu bisa dilakoni sampai pukul 20.00, terkadang sampai selarut pukul 24.00. ‘’Kalau langsung ke kamar, terkadang mata sulit terpejam,’’ papar ibu tiga anak itu.

Rutinitas Suyati ketika pagi hingga siang hanya berkutat di ladang hutan. Setelah selesai memasak, dia mencari rumput untuk pakan lembu milik tetangga. Selain buruh ternak, dia tanam singkong dan beberapa jenis sayuran untuk dimasak sendiri. ‘’Kalau pas capek, siang sudah pulang,’’ tuturnya sembari menyebut upahnya menjadi buruh ternak Rp 500 ribu setahun.

Janda itu tinggal serumah bersama putra sulungnya. Anak keduanya transmigrasi ke Kalimantan. Bungsu sudah meninggal dunia. Biaya membeli beras dicukupi anaknya dari hasil menyadap getah kayu pinus. Kebutuhan lainnya ditopang kiriman kedua anaknya. ‘’Dulu saya juga nyadap, tapi sudah berhenti karena fisik nggak kuat,’’ ungkapnya.

Suyati adalah satu dari delapan kepala keluarga (KK) yang masih bermukim di Sekalus. Jarak antara satu rumah dengan lainnya terpaut lebih dari 5 meter. Dengan topografi lereng pegunungan yang menurun. Dari atas, rumah Suyati berada di urutan keempat. Kondisi seluruh bangunan rumah di tengah hutan pinus itu semipermanen.

Walau sudah beratap genting, temboknya kayu. Tanpa jendela kaca dan masih berlantai tanah. Tidak ada aktivitas cangkruk saat malam. Bila masih ada warga yang terjaga, terlihat nyala redup merah kekuning-kuningan dari dalam rumahnya. ‘’Kalau berkunjung ke rumah tetangga atau berkumpul, ya siang,’’ ungkap Warsito, warga Sekalus lainnya.

Rutinitas Warsito tidak kalah menjemukan. Dia lebih sering mengobrol dengan istrinya, Juwarti, dan Yenis Setyaningsih, anaknya, di ruang tamu untuk memecah kesunyian. Biasanya berlangsung selama tiga jam sejak pukul 18.00 sebelum berpindah ke kasur. Pria 37 tahun itu malu-malu menyampaikan hal yang dijadikan bahan pembicaraan. Dia hanya menyebut tentang berbagai kegiatan yang dilakukan ketika pagi hingga siang. ‘’Yang diobrolin nggak ada habisnya,’’ katanya.

Salah satu yang membedakan kegiatan bapak satu anak itu dengan Suyati ketika malam adalah penggunaan handphone. Warsito mampu mengakses internet lewat android. Kendati sinyal di wilayahnya tergolong lemah. Sedangkan Suyati hanya memiliki handphone jadul sekadar untuk berkomunikasi di saat tertentu.

‘’Kalau pagi handphone di-charge di rumah teman di Poleng. Sore baru diambil,’’ ungkap Warsito sambil menyebut beberapa warga Sekalus lain kerap menitipkan handphone untuk isi ulang baterai.

Warsito yang usianya mendekati kepala empat itu tak pernah merasakan terang listrik di Sekalus hingga semalam suntuk. Penerangan hanya dinikmatinya sampai usia 19 tahun ketika masih tinggal di rumah aslinya di Gemarang. Sampai kini dia pun belum berniat memiliki perabotan elektronik.

Bangunan rumahnya terdiri dua kamar tidur tanpa pintu dengan pengganti selambu. Ada ruang seluas 4×6 meter diisi kursi dan meja sebagai ruang tamu. Sisanya menjadi tempat parkir sepeda motor. Dua bulan terakhir, Warsito memanfaatkan aki motornya untuk menyalakan lampu. ‘’Hanya menyala dari pukul 18.00 sampai 21.00. Biar terang walau hanya sebentar,’’ ucapnya. *** (andi chorniawan/c1/fin)

 

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button