Madiun

Tersangka WDR Dititipkan Sel Tahanan Mapolres Madiun

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Agus Suyanto, tersangka dugaan penambangan ilegal Watu Dakon Resort (WDR), mendekam di balik jeruji besi Mapolres Madiun. Pengelola bakal wisata kolam pemancingan ikan di Desa Banjarsari Wetan, Dagangan, itu resmi menjadi tahanan kejaksaan negeri (kejari) setempat.

Setelah jaksa menerima pelimpahan perkara tahap kedua dari penyidik Satreskrim Polres Madiun Selasa (28/7). Waktu yang dibutuhkan 10 bulan untuk penahanan sejak penetapan tersangka Oktober 2019. ‘’Kami tahan untuk 20 hari ke depan,’’ kata Kasipidum Kejari Kabupaten Madiun Tri Satrio.

Satrio menjelaskan, penahanan lebih dari dua pekan itu sekaligus untuk menyiapkan berkas dakwaan. Sebelum akhirnya dilimpahkan ke pengadilan negeri (PN) untuk memulai proses persidangan. Pihaknya menitipkan tersangka ke sel tahanan mapolres lantaran Lapas Kelas I Madiun tidak memungkinkan. ‘’Karena tempat isolasi tahanan sudah penuh,’’ ujarnya.

Agus tiba di kantor kejari bersama dua anggota satreskrim sekitar pukul 11.30. Mengenakan setelan celana dan kaus warna hitam, tersangka yang tangannya terikat handcuffs itu dikeler menuju ruang tahanan. Setengah jam kemudian, Agus diminta masuk ke ruang pidum. Jaksa memeriksanya selama sekitar 35 menit. ‘’Pemeriksaan meliputi identitas tersangka maupun penjelasan dakwaan saat persidangan nanti,’’ terang Satrio.

Selain tersangka, penyidik menyerahkan pula barang bukti (BB) berupa dokumen administrasi. Berkas-berkas yang digunakan tersangka untuk memuluskan aktivitas mengeruk lahan di Banjarsari Wetan. Antara lain, selembar surat permohonan rekomendasi izin usaha pemancingan tertanggal 20 Desember 2017.

Berkas itu mengetahui Kepala Desa Banjarsari Wetan Samekto dan Camat Dagangan Muhammad Zahrowi, kini menjabat kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain itu, selembar surat keterangan nomor 556/41/402.112/2017 yang dikeluarkan Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Madiun Isbani. ‘’Barang bukti ini untuk dibuktikan dalam persidangan,’’ ucap kasipidum.

Satrio menyebut, pengusaha WDR dijerat pasal berlapis. Yakni, pasal 158 Undang-Undang (UU) 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) dan pasal 109 UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). ‘’Masing-masing ancaman hukuman maksimalnya 10 tahun dan tiga tahun penjara,’’ sebutnya.

Diketahui, kasus WDR mencuat Maret 2019. Berkedok membangun wisata kolam pemancingan ikan, lahan di Banjarsari Wetan dikeruk hingga membentuk kubangan raksasa. Sejumlah pejabat dari organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup pemkab dan Pemprov Jawa Timur diperiksa sebagai saksi.

Polisi menetapkan Agus sebagai tersangka tujuh bulan kemudian. Namun, tanpa dilakukan penahanan. Sementara, pelimpahan tahap pertama ke kejari dilakukan Januari 2020. Akan tetapi, berkas baru dinyatakan lengkap atau P-21 pertengahan Juni. Ketika hendak dilakukan pelimpahan tahap kedua 21 Juli, Agus mangkir dari panggilan penyidik. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close