Madiun

Tersangka WDR Bukan Agus Seorang?

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Bukan Agus Suyanto seorang, tersangka Watu Dakon Resort (WDR). Polisi telah memberi sinyal bakal mengembangkan perkara perizinan kolam pemancingan di Banjarsari Wetan, Dagangan, itu. Menelusuri dugaan material tanah usaha dikomersialkan. ‘’Ya, penyidik terus mendalami,’’ kata Kasat Reskrim Polres Madiun AKP Logos Bintoro.

Ada indikasi tanah uruk hasil penggalian sedalam belasan meter itu dijadikan ladang bisnis. Mengeruk keuntungan atas belum beresnya legalitas perizinan. Dugaan tersebut mencuat setelah penyidik menemukan sejumlah petunjuk mengarah pada komersialisasi. Ihwal detail petunjuk itu belum bisa disampaikan berkait materi penyelidikan. ‘’Kami berusaha melengkapi petunjuk lainnya itu,’’ ujarnya.

Logos menyebut, sejumlah saksi bakal diperiksa untuk membuktikan indikasi komersialisasi. Terlepas klaim pengusaha bahwa material yang dikeluarkan untuk hibah sosial. Para saksi adalah pihak yang bersinggungan dengan aktivitas mengeluarkan hasil penggalian. Seperti sopir truk maupun konsumen. ‘’Sekaligus mencari bukti-buktinya,’’ imbuh mantan kasat reskrim Polres Madiun Kota tersebut.

Tidak menutup kemungkinan, tersangka baru akan muncul dari hasil pengembangan penyelidikan komersialisasi tanah uruk. ‘’Dilihat saja nanti perkembangannya seperti apa,’’ tuturnya seraya menyebut sanksi pemulihan lokasi galian yang ekosistemnya diduga telah rusak bergantung keputusan pengadilan negeri (PN).

Adapun dalih pengembang WDR, hasil galian tidak dikomersialkan. Melainkan untuk kepentingan sosial yang berkaitan dengan hajat orang banyak. Mulai perbaikan jalan, pengurukan lapangan desa, pembangunan musala dan masjid, hingga pondok pesantren. Pemesan hanya diminta mengganti ongkos distribusi atau lazim disebut ”ongkos gendong”. Setiap ritasenya dikenai Rp 130-150 ribu. Untuk membeli bahan bakar dump truck dan ekskavator. Dalih itu dipatahkan dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (DPMPTSP) setempat. OPD tersebut mengindikasikan material galian dikomersialkan. Material sudah menjadi komoditas. Hal itu dibuktikan dengan pengakuan checker yang menyebut tanahnya dijual. Belakangan, temuan itu membuat DPMPTSP meneruskan laporan keberadaan galian C bodong ke Dinas ESDM Jawa Timur, 4 Maret lalu.

Satreskrim menetapkan Agus sebagai tersangka, Rabu lalu (2/10). Warga Kebonsari itu diduga melakukan aktivitas penambangan meski belum mengantongi izin usaha penambangan operasional produksi (IUP-OP). Kegiatan tersebut melabrak dua regulasi sekaligus. Undang-Undang (UU) 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) serta UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button