Ngawi

Tersandung Korupsi Dana Bantuan Kemenkop-UKM, Dua Pengurus KSP Tersangka

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Penyidikan kasus dugaan korupsi penyimpangan dana bergulir sektoral agrobisnis bantuan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM) memasuki babak baru. Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi akhirnya menetapkan dua orang yang diduga terlibat dalam kasus rasuah itu sebagai tersangka.

Kedua tersangka itu adalah ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sumber Rejeki, Desa Puhti, Karangjati, berinisial S; dan seorang pengurus KSP Rukun Agawe Santosa, Desa Beran, Ngawi, berinisial P. Hasil penyidikan kejaksaan, keduanya diduga telah melakukan manipulasi data penerima bantuan.

Penetapan tersangka dilakukan pada 23 Juli lalu setelah alat bukti yang dibutuhkan terpenuhi. Pun, sebelumnya harus melalui penyidikan panjang selama delapan bulan. ‘’Kedua tersangka sudah kami tahan untuk proses selanjutnya,’’ kata Kepala Kejari (Kajari) Ngawi Waito Wongateleng Jumat (26/7).

Waito menjelaskan, kasus itu bermula dari adanya program pemerintah pusat bagi usaha kecil menengah pada 2006 silam. Nilai bantuan untuk masing-masing koperasi sebesar Rp 500 juta. ‘’Tentunya kedua koperasi tersebut juga sudah mengajukan ke kementerian untuk mendapat bantuan itu,’’ tuturnya.

Salah satu prosedur yang harus dilalui adalah mencantumkan nama-nama calon penerima bantuan. Nah, hasil penyidikan kejari, diketahui ternyata dalam daftar yang diajukan koperasi tersebut merupakan nasabah atau anggotanya sendiri tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. ‘’Saat bantuan dicairkan, diduga tidak tersalurkan kepada para penerima, atau diberikan tapi nilainya tidak sesuai yang sebenarnya,’’ jelas Waito.

Kedua tersangka diduga menggunakan dana ratusan juta tersebut untuk kepentingan sendiri maupun orang lain. Padahal, informasi yang diperoleh Radar Ngawi, dana bergulir sektoral agrobisnis itu harus dikembalikan kepada koperasi dengan nilai yang sama dalam jangka waktu 10 tahun.

Waito menyebut, total kerugian negara akibat kasus tersebut mencapai Rp 920 juta. Perinciannya, dari KSP Sumber Rejeki dengan tersangka S senilai Rp 420 juta. Sedangkan KSP Rukun Agawe Santosa dengan tersangka P mencapai Rp 500 juta. ‘’Barang bukti dari kedua KSP berupa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan program tersebut telah kami amankan. Nanti dalam penyidikan akan kami lakukan juga penyitaan harta atau aset kedua tersangka,’’ urainya.

Soal kemungkinan adanya pelaku lain, Waito belum bisa memastikan hal itu. Sejauh ini, kata dia, dari hasil penyidikan dan beberapa barang bukti, dugaan korupsi mengarah kuat kepada kedua tersangka itu. ‘’Kecuali jika dalam perkembangan proses penyidikan nanti terdapat bukti tambahan yang mengarah kepada pelaku lainnya. Untuk menetapkan tersangka itu kan harus disertai bukti kuat,’’ ujarnya.

Sementara itu, penelusuran Radar Ngawi, KSP Sri Rejeki hingga kini masih beroperasi. Sedangkan KSP Rukun Agawe Santosa sudah tidak aktif. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button