Madiun

Terpengaruh Zonasi, Sunday Market Sepi

Warga Sadar Pentingnya Menghindari Kerumunan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun ­– Naik-turun kurva sebaran korona mengundang waspada. Hari-hari ini, seluruh masyarakat menahan diri. Mengubah kebiasaan berkerumun di tempat keramaian.

Tak banyak lagi warga yang mendatangi Sunday Market di Taman Bantaran Lalu Lintas Kota Madiun. Kondisi itu telah berlangsung sebulan terakhir. Tiga pekan sebelum pemkot mulai memberlakukan jam malam. Ini menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat untuk menjauhi kerumunan. Meski kondisi ini membuat pedagang terpaksa harus gigit jari. ‘’Setelah zona hijau berubah kuning, pengunjung mulai berkurang,’’ kata Alfiati, pedagang di Sunday Market, Minggu pagi (6/9).

Di awal Sunday Market dibuka kembali setelah tiga bulan diliburkan, Alfiati masih bisa menjual 15 kilogram nasi. Namun, sebulan terakhir ini dia hanya sanggup menjual 10 kilogram nasi. ‘’Sekarang lebih sepi karena belum boleh ada event apa-apa di sini,’’ tutur pedagang asal Nambangan Kidul, Manguharjo, itu.

Sri Wahyuni juga terdampak sepinya Sunday Market sebulan terakhir ini. Pedagang pakaian asal Klegen, Kartoharjo, itu merasakan betul pengurangan pengunjung di setiap pekannya. Itu membuat banyak pedagang mengurangi jumlah dagangannya atau enggan melapak lagi. ‘’Seharian tadi (kemarin, Red) hanya terjual sepuluh pakaian,’’ ungkapnya. (mg3/c1/fin)

Disdag Yakini Magnet Pasar Minggu Masih Tinggi

SEJAK awal pandemi, jumlah pedagang di Sunday Market memang dibatasi. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun menggarisbawahi batas maksimal 350 lapak di setiap jarak 1-1,5 meter. Pun, hanya pedagang dari dalam kota yang diperbolehkan melapak di Taman Bantaran Lalu Lintas Kota Madiun.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun Gaguk Hariyono mengakui geliat perekonomian di Sunday Market belum sepenuhnya pulih. Di masa pandemi ini, semua pihak harus bersama-sama menjaga diri dari potensi persebaran Covid-19. ‘’Tidak memungkinkan seluruh pedagang buka lapak kembali,’’ kata Gaguk.

Sunday Market mulai dibuka kembali di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), awal Juni. Kapasitas 760 pedagang dikepras tinggal 350 pedagang. Tiap titik diberlakukan protokol kesehatan ketat. Saat ditutup total selama tiga bulan di awal pandemi cukup berpengaruh terhadap perputaran roda ekonomi. Daya beli masyarakat menurun dan secara makro berimbas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. ‘’Setidaknya sekarang ini roda ekonomi mulai bergerak lagi. Meski belum sepenuhnya pulih, mulai ada perputaran uang di tingkat masyarakat,’’ ungkapnya.

Untuk mengetahui angka riil perputaran uang di Sunday Market sebelum dan selama pandemi, Gaguk telah bekerja sama dengan tim peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kajian itu diperkirakan tuntas dua pekan mendatang. Saat ini, Gaguk berharap beberapa kebijakan pemerintah pusat dapat menghidupkan kembali ekonomi mikro seperti di Sunday Market. Karenanya, stimulus gaji pekerja berpenghasilan bawah Rp 5 juta dapat merangsang daya beli terhadap pelaku usaha lokal. ‘’Jika Sunday Market masih ditutup, kami tak bisa membayangkan seperti apa kondisi ekonomi di Kota Madiun,’’ tuturnya.

Sebagai bukti, Gaguk yang kerap terjun langsung mengampanyekan protokol kesehatan dengan bersolek menjadi Punakawan itu masih kerap menjumpai pengunjung luar daerah. Itu menandakan magnet Sunday Market masih tinggi. Sisi lainnya, Perwal 39/2020 mengatur keberlangsungan aktivitas di berbagai sektor. Petugas di Sunday Market siap menindak pengunjung maupun pedagang yang melanggar protokol kesehatan. ‘’Kami terus pantau secara intensif,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button