Madiun

Terpantau Pulang dari Berbagai Negara, 22 Warga Kota Madiun Risiko Korona

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes & KB) Kota Madiun pasang badan setelah status Indonesia sebagai green zone atau zero case resmi dicabut. Salah satunya melakukan pemantauan warga Kota Karismatik yang baru pulang dari berbagai negara. Sedikitnya 22 orang dengan risiko (ODR) virus korona terus dalam pemantauan untuk memastikan tidak tertular virus mematikan itu.

Puluhan ODR laporan dari Dinas Kesehatan Jawa Timur itu, perinciannya, delapan orang pulang dari Malaysia, lima dari Singapura, tiga dari Hongkong, serta dari China, Jepang, dan Filipina masing-masing dua orang. ‘’Laporan itu langsung kami tindak lanjuti,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes & KB Kota Madiun Edy Harmanto saat dihubungi Jawa Pos Radar Madiun Selasa (3/3).

Setelah ditindaklanjuti, 12 di antaranya merupakan warga Kota Madiun yang berdomisili di luar kota. Mulai Kabupaten Madiun hingga Surabaya. Setelah memastikan alamat dan kesehatan masing-masing, pihaknya terus melakukan pemantauan. Selanjutnya pemantauan intens diserahkan dinkes masing-masing daerah. ‘’Tetap kami pantau. Sudah kami dapatkan alamat dan kontaknya,’’ ujarnya.

Sementara 10 ODR merupakan warga asli dan berdomisili di kota ini. Satu di antaranya berstatus mahasiswa yang baru pulang dari China. Pihaknya mengklaim telah memastikan kondisi kesehatan mereka. Dipastikan sehat tanpa indikasi yang mengarah gejala korona. ‘’Ada beberapa yang sudah melewati masa inkubasi,’’ terangnya.

Dari 10 ODR, tiga di antaranya dinyatakan lolos dari pantauan. Artinya, tiga orang tersebut tidak mengalami tanda-tanda klinis ataupun gejala korona setelah melewati masa inkubasi 14 hari. Sehingga saat ini pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap tujuh ODR. ‘’Tetap kami berikan edukasi dan penjelasan,’’ tuturnya.

Saat ini dinkes fokus melakukan pemantauan dan pemeriksaan medis terhadap tujuh ODR. Termasuk orang utama dan keluarga bersangkutan. Juga TKI yang datang ke kota setempat dilakukan surveilans tracking atau pemantauan selama 14 hari. ‘’Petugas yang mendatangi rumah mereka. Mengecek apakah yang bersangkutan ada gejala seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas. Kalau selama 14 hari nggak ada gejala itu, ya berarti sudah negatif virus korona,’’ jelasnya.

Edy menegaskan bahwa seluruhnya tidak lantas berstatus orang dalam pengawasan, melainkan pemantauan. Sebab, jika dalam pengawasan menurutnya diperuntukan bagi yang dirawat di rumah sakit. Karena itu, pihaknya meminta warga tidak panik atas hal tersebut. ‘’Harus waspada, tapi jangan panik,’’ ucapnya.

Edy memerinci total ODR berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan masing-masing 11 orang. Sementara berdasarkan sebaran wilayah, yakni dari Kecamatan Taman enam orang, Kecamatan Manguharjo empat orang, serta 12 orang sisanya merupakan warga kota setempat yang berdomisili di luar kota. ‘’Satu mahasiswa yang menempuh pendidikan di Hubei, China, dan 21 merupakan TKI,’’ ungkapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button