Madiun

Terkait Konfirmasi Positif Covid-19, Keluarga Pasien Ke-40 Bingung

RSUD dr Soedono Sebut Hasil Swab Jadi Bukti

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Isi kepala Lukman Bustomi, 38, beserta keluarganya dipenuhi tanda tanya. Mereka bingung atas konfirmasi positif Covid-19 pasien ke-40 Kabupaten Madiun yang meninggal dunia Sabtu lalu (18/7).

Musabab meninggalnya warga Desa Pagotan, Geger, itu diklaim tidak ada sangkut pautnya dengan korona. ‘’Ibu saya sudah lama sakit jantung dan diabetes,’’ kata Bustomi, anak keempat pasien ke-40 yang tak lain ibunya itu, Selasa (21/7).

Pasien ke-40 terkonfirmasi positif berdasar hasil swab yang keluar Jumat (17/7). Perempuan 64 tahun itu dirawat di RSUD dr Soedono, Madiun, sejak 15 Juli. ‘’Masuk rumah sakit karena kondisi kesehatan ibu drop,’’ ujarnya via sambungan telepon.

Bustomi menyebut, ibunya tidak bepergian ke mana-mana dalam sebulan terakhir. Hanya tinggal di rumah. ‘’Belanja saja sudah tidak, apalagi berkunjung ke rumah kerabat di Magetan,’’ katanya.

Faktor lain yang membuat keluarga Bustomi bingung adalah surat keterangan kematian. Dokumen itu baru diterima Senin (20/7) atau dua hari setelah jenazah diserahkan. Apalagi, hasil rapid test anggota keluarga yang tinggal serumah hasilnya nonreaktif. Yakni, suami, dua anak, dan tiga cucu. ‘’Keterangan seperti itu seakan mengarah kalau ibu saya tidak tertib. Terindikasi Covid-19 tapi malah pergi ke mana-mana,’’ ucapnya.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Madiun Soelistyo Widyantono tidak banyak berkomentar kala dimintai konfirmasi. Menurut dia, sudah tidak ada lagi persoalan. Pihaknya telah bertemu dengan RSUD dr Soedono dan keluarga pasien ke-40. ‘’Selengkapnya bisa minta penjelasan ke RSUD dr Soedono,’’ ujarnya.

Direktur RSUD dr Soedono Madiun Bangun Trapsila Purwaka menegaskan, penetapan positif pasien ke-40 melalui serangkaian pemeriksaan. Sebelum dinyatakan sebagai suspect (sebelumnya pasien dalam pengawasan), ada proses skrining. Lalu, ketika di-swab, hasilnya terkonfirmasi terinfeksi korona. ‘’Keluarga awalnya memang menolak diagnosis Covid-19, tapi kan ada hasil swab (sebagai bukti),’’ ungkapnya.

Bangun menyampaikan, surat keterangan kematian memang baru diserahkan Senin. Penyebabnya, pihak penerima jenazah bukan dari keluarga utama. Pihaknya kurang mengetahui alasan tidak bisa hadir dalam proses tersebut.

Kemungkinan, kata dia, karena pemberlakuan standard operating procedure (SOP) Covid-19. Keluarga dari pasien positif yang meninggal harus dikarantina dinkes setempat. ‘’Kalau tidak ada surat keterangan kematian, itu tidak mungkin. Sebab, kalau tidak ada, jenazah tidak bisa dimakamkan,’’ tandasnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button