Pacitan

Terjadi Belasan Kasus Pencurian, Pelabuhan Tamperan Tidak Aman

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Kasus pencurian mesin kapal di Pelabuhan Tamperan, Pacitan, terbilang tinggi. Versi nelayan, selama 2019 ini sudah terjadi sekitar 10 kali. Tahun sebelumnya belasan kasus. Para nelayan pun merasa pelabuhan ini tidak aman. ‘’Sering kemalingan mesin kapal di sini,’’ kata Beni Marsaid, salah seorang nelayan, Jumat (6/12).

Warga lingkungan Bleber, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, ini mengatakan bahwa yang jadi sasaran maling adalah mesin tempel jenis jetkul. Harganya di kisaran Rp 15 juta per unit. ‘’Kalau mesin lain nggak mau,’’ ungkapnya.

Muhammad Nur Wahid, nelayan lain warga Desa Sirnoboyo, membenarkan bahwa dua tahun terakhir sering terjadi kasus pencurian di Pelabuhan Tamperan. Dari sederet kejadian itu, hanya satu kasus yang pelakunya tertangkap. Selebihnya, para nelayan mesti merelakan mesin kapalnya raib. ‘’Nelayan di sini biasa tidak mencopot mesin kapal setelah melaut. Mau disimpan juga tidak ada tempat,’’ ujar Nur.

Ratusan unit kapal disandarkan di Pelabuhan Tamperan. Tidak ada jadwal khusus bagi para nelayan kecil untuk melaut. Bisa dini hari, sore, atau pagi. Pun, di kawasan pelabuhan banyak orang memancing. Karena itu, para nelayan berharap ada peningkatan sistem keamanan. ‘’Kalau ada yang hilang bisanya cuma lapor. Tapi jarang tertangkap. Sudah beberapa kali usul dipasangi CCTV,’’ bebernya.

Sementara, Pos Keamanan Laut Terpadu (Kamladu) Tamperan mencatat pada 2018 hanya satu kasus pencurian mesin kapal. Sedangkan 2019 satu kali pencurian cincin jaring. Terbaru, laporan kehilangan satu unit kapal daplangan beserta mesin dan peranti nelayan komplet, Kamis (5/12). ‘’Kami sebenarnya sudah mengimbau nelayan untuk melakukan pengawasan model poskamling. Karena hanya di sini mesin kapal tidak dicopot,’’ kata Koordinator Pos Kamladu Tamperan Aiptu Indro Wibowo.

Terkait beda jumlah kasus yang disebut nelayan tersebut, Indro menduga ada beberapa yang tidak dilaporkan. Dia berharap agar setiap kejadian dilaporkan ke pihaknya. Sehingga, petugas bisa berkoordinasi dengan rekan-rekan di lain daerah. ‘’Seperti laporan kehilangan kapal yang kemarin itu (5/12), kami sudah menyebar informasi ke Trenggalek dan Gunung Kidul,’’ pungkasnya. (den/c1/sat)

Siapkan 32 CCTV dan 8 Ruang Penyimpanan

KASUS pencurian properti nelayan marak terjadi di Pelabuhan Tamperan. Pihak Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Temperan, Pacitan, tak membantah.  ‘’Jumlah kapal di sini banyak, mestinya jadi tanggung jawab bersama,’’ kata Kepala UPT PPP Tamperan, Pacitan, Ninik Setyorini, Jumat (6/12).

Menurut dia, minimnya personel UPT serta kurangnya kesadaran para nelayan jadi salah satu pemicu ulah panjang tangan tersebut. Dari total 32 personel, tujuh di antaranya PNS, hanya dua berposisi sebagai petugas keamanan.

Ninik mengklaim jumlah tersebut sangat terbatas. Tidak sebanding banyaknya kapal yang berlabuh. Baik kapal slerek, sekoci, maupun daplangan. ‘’Setiap malam penjaga keamanan ditugaskan, tapi terbatas jumlahnya. Sekarang juga ada larangan menambah jumlah petugas,’’ ungkapnya.

Ninik mengiyakan sudah beberapa kali para nelayan mengusulkan peningkatan sistem keamanan di pelabuhan. Pihaknya telah menyiapkan 32 unit closed circuit television (CCTV). Kamera pengintai tersebut bakal disebar di setiap sudut pelabuhan. ‘’Dalam waktu dekat akan dipasang untuk meningkatkan keamanan pelabuhan,’’ janjinya.

Pejabat perempuan ini juga mengetahui kebiasaan nelayan daplangan Pelabuhan Tamperan yang biasa meninggalkan mesin kapal. Kondisi tersebut rawan memicu aksi pencurian. Selain berencana memasang CCTV, pihaknya juga sudah menyiapkan ruang penyimpanan mesin tempel dan peralatan nelayan lainnya. ‘’Sudah ada delapan ruang yang selesai dibangun Oktober lalu,’’ terangnya.

Hanya, delapan ruang itu belum mampu menampung seluruh properti nelayan. Namun, setidaknya sebagai upaya untuk mengantisipasi kasus pencurian. Pihaknya tengah menyosialisasikan ruangan tersebut kepada nelayan. ‘’Satu ruangan bisa untuk beberapa nelayan menyimpan mesin tempel atau jaring mereka,’’ katanya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close