Ngawi

Tergiur Harga, Petani Sidorejo Tertipu Pupuk Imitasi

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Petani menjadi sasaran tembak penipuan di usaha pertanian. Sejumlah warga Desa Sidorejo, Geneng, Ngawi, menjadi korban peredaran pupuk nonsubsidi palsu. Meski tidak sampai dibawa ke ranah hukum, kelompok petani (poktan) meminta pemkab memperketat pengawasan senyawa yang membantu pertumbuhan tanaman itu.

Pasalnya, momen peredaran pupuk imitasi itu bersamaan dengan minimnya jumlah pupuk subsidi dari pemerintah pusat. ‘’Ketika pupuk subsidi terbatas, kami sebetulnya sanggup membeli pupuk nonsubsidi. Tapi, tolong pengawasan penjualan pupuk ini diperketat,’’ pinta Wasito, ketua Poktan Sido Rukun, Sidorejo, Geneng, Selasa (27/4).

Wasito mengungkapkan, beberapa anggotanya kena tipu dengan membeli pupuk nonsubsidi palsu. Jenisnya, nitrogen, phosphat, kalium (NPK) merek Phonska. Sekilas memang tidak ada perbedaan dengan pupuk asli keluaran Petrokimia Gresik itu.

Namun, bila diamati saksama, ada dobel huruf P. ‘’Ketika para petani menyadari pupuknya palsu, penjualnya tidak pernah datang lagi,’’ ujarnya sembari menyebut petani membeli karena tergiur harga lebih murah dibandingkan pupuk nonsubsidi aslinya.

Kabid Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan Dinas Pertanian (Dispertan) Ngawi Eka Sri Rahayu mengakui adanya praktik penjualan pupuk nonsubsidi imitasi di wilayahnya. Modus pelakunya berjualan keliling dengan kendaraan di desa-desa. Waktunya sore saat petani pulang dari sawah. ‘’Dengan metode itu, pelakunya sulit ditemukan ketika petani tahu pupuk yang dibeli palsu,’’ katanya.

Harga yang terlampau murah membuat aksi tipu-tipu berjalan mulus. Pelakunya, kata Eka, bisa warga Ngawi atau luar daerah. ‘’Tapi, kami pastikan barangnya (pupuk nonsubsidi palsu, Red) tidak diproduksi di Ngawi,’’ ucapnya.

Dispertan mengklaim terus mengedukasi warga untuk bisa membedakan pupuk asli dan palsu. Dari segi produk, pupuk imitasi dominan untuk semua jenis tanaman. Sedangkan dari segi kemasan, nama pupuknya cenderung memelesetkan nama-nama pupuk umum. ‘’Kalau pupuk palsu warna merah mudanya lebih pudar atau kusam,’’ terangnya seraya menyebut kandungan nitrogen dan fosfat pupuk palsu tidak sampai satu persen, sedangkan yang asli minimal delapan persen.

Disinggung mengenai sejauh mana pengawasan, Eka menjawab normatif. Menurut dia, kegiatan itu butuh sinergitas dengan dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK) serta aparat kepolisian. Pihaknya sebatas menghitung kebutuhan pupuk subsidi untuk petani lewat rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). ‘’Kalau distribusi DPPTK dan penindakannya pihak kepolisian,’’ sebutnya. (mg3/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button