PacitanPeristiwa

Terdampak Kemarau, 575 Hektare Lahan Pertanian Puso

PACITAN – Kemarau panjang tak hanya berdampak pada ketersediaan air bersih penduduk. Sulitnya air juga mengganggu siklus tanam padi para petani di Pacitan. Imbasnya, ratusan hektare lahan pertanian padi milik warga mengalami gagal panen alias puso.

Bahkan, tak sedikit petani hanya menanam jerih payah tanpa memanen hasil lantaran dampak parah yang ditimbulkan. “Tertinggi kalau di Pacitan itu, wilayah Kebonagung,” kata Kasi Perlindungan Tanaman dan Holtikultura Dinas Pertanian (Disperta) Pacitan Muchtar Yahya kemarin.

Menurut Muchtar, dari 6.908 hektare lahan pertanian di musim ini, setidaknya 575 hektare lahan mengalami puso. Hal itu dihitung secara kumulatif dalam dua bulan terakhir. Dia memerinci, pada Mei saja lahan puso di Pacitan mencapai 227 hektare. Sementara pada Juni bertambah luas 394 hektare. “Kalau dipersentase sekitar delapan persen dari lahan yang ditanami padi saat ini,” ungkapnya.

Disperta mencatat Kecamatan Kebonagung  menyumbang lebih dari 50 persen gagal panen. Dari total 575 hektare di dua bulan terakhir, 322 hektare di antaranya masuk di wilayah Kebonagung. Dari 245 hektare pada Juni serta 77 hektare pada Mei lalu. Jumlah itu merupakan tiga puluh persen dari total padi yang ditanam Kebonagung, yakni 941 hektare. “Sementara di Kecamatan Punung ada 112 hektare puso pada Mei. Dan, kosong pada Juni dari 771 hektare lahan pertanian. Itu berarti urutan kedua puso,” urai Muchtar.

Tingginya puso kali ini, diakui Muchtar, lantaran sulitnya mencari air di musim kemarau. Meski di sebagian wilayah terdapat pompa diesel, namun tak sedikit petani yang enggan menggunakan. Hal itu lantaran jumlah pengeluaran yang tak sesuai dengan prediksi hasil penan kelak. Hingga kebanyakan memilih membiarkan lahan mereka kekeringan. “Biaya yang dikeluarkan hingga panen dan hasil yang didapat itu tidak sebanding, akhirnya ada pembiaran dari petani sendiri,” jelasnya.

Muchtar mencatat, dari penanaman padi di Pacitan, kebanyakan wilayah mengalami puso pada Mei dan Juni lalu. Hingga tak sedikit pula padi yang berumur 45 hari namun sudah gagal panen. Sementara sebagian wilayah yang masih sanggup bertahan terpaksa tak maksimal dalam memanen padi. Muchtar tak menampik pengaruh puso kali ini terhadap target panen kelak. “Kemarin kita sudah sampaikan ke dirjen, dan mereka sudah survei ke sini untuk melihat langsung kondisi pertanian,” ungkapnya.

Namun, tak seluruh wilayah mengalami gagal panen. Dari 12 kecamatan, hanya Kecamatan Kebonagung dan Punung yang mengalami puso lebih dari 100 hektare. Sedangkan, tiga kecamatan lain, yakni Pacitan 35 hektare gagal panen, Ngadirojo 37 hektare, dan Sudimoro 53 hektare.

Sementara, Tegalombo, Arjosari, Pringkuku, Donorojo, dan Tulakan sukses dalam panen kali ini. Hal itu diakuinya tak lepas dari waktu tanam dan sumber air yang masih mudah didapat di lima kecamatan itu. “Memang di kecamatan seperti Bandar dan Nawangan tidak menanam karena tak memungkinkan,” jelasnya. (mg6/c1/rif)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close