Advertorial

Terapi Kokedama Dosen Unipma

Bantu ABK Redam Emosi dan Bernilai Jual Tinggi

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi-  Hadirnya tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) mampu memberikan nafas baru bagi dunia pendidikan, khususnya bagi siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ngawi. Melalui kegiatan ini, anak berkebutuhan khusus (ABK) memperoleh materi life skill yang bermanfaat untuk masa depannya. ‘’Tujuan kegiatan PKM ini memberikan layanan untuk ABK secara mandiri saat pandemi,” ujar W. Linda Yuhanna, anggota tim PKM Universitas PGRI Madiun (Unipma), kemarin.

Linda tidak bekerja sendiri. Dia bersama sesama dosen Unipma, Rischa Pramudia menggawangi kegiatan ini. Keduanya terjun langsung memberikan pendampingan kepada siswa SLBN Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ngawi. Materi life skill seperti pembuatan kokedama atau seni tanaman hias dari Jepang diberikan untuk para ABK. Siswa pun terlihat antusias mengikuti seluruh materi yang diberikan dua dosen Unipma tersebut. ‘’Kami memilih kokedama karena keterampilan ini memerlukan sentuhan, gerakan, penglihatan dan konsentrasi. Jadi sangat relevan untuk digunakan sebagai media terapi bagi siswa. Paling tidak mendukung perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik ABK,’’ katanya.

Sejalan dengan Linda, Rischa menyebut tanaman hias dapat memberikan efek ketenangan, meningkatkan mood, meredam emosi, dan meningkatkan konsentrasi. Filosofi warna hijau dan coklat pada bahan baku keterampilan ini dapat memberikan efek keteduhan dan meredam emosi dari ABK. “Adanya pendampingan dari tim PKM dan sinergisitas antara guru dan orang tua sangat penting untuk keberhasilan pelatihan ini,’’ terangnya.

Rischa dan Linda sengaja memberikan materi life skill ini setelah galau melihat adanya kendala dalam pembelajaran daring yang dilakoni ABK selama pandemi berlangsung. Ini terjadi karena guru tidak secara langsung berinteraksi dengan siswa ABK. Kondisi ini diperparah karena 10 persen orang tua siswa ABK tidak mempunyai gawai untuk pembelajaran online dan melaporkan kegiatan ABK di rumah. ‘’Layanan yang diberikan orang tua sebatas kegiatan rutin sehari-hari, sehingga ABK tidak diberikan layanan dan terapi yang terstruktur untuk keterampilan sensorik dan motoriknya,” imbuhnya.

Data lain juga menyebut, ada 86 persen ABK tidak memperoleh pembelajaran life skill dan keterampilan selama pembelajaran mandiri di rumah. Mereka menarik diri dari lingkungan sekitar.Sehingga hal ini berpengaruh pada kondisi psikologi dan perkembangan sosioemosional anak. Hal ini tentu menjadi perhatian kusus bagi tim PKM Unipma dengan melakukan inovasi pelatihan life skill berupa Kokedama. ‘’Kegiatan ini sudah kami mulai lakukan Juni hingga Oktober mendatang. Ada sebanyak 30 siswa beserta orang tuanya yang mengikuti pelatihan ini. Selain menjadi terapi, kami berharap karya siswa ini memiliki estetika dan bernilai jual tinggi,’’ pungkasnya. (afi/aan/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button