Ngawi

Tepergok Satpol PP, Kakek 70 Tahun Gagal Hohohihe

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Niat kakek Dar, 70, untuk menyalurkan nafsu berahinya dengan seorang pekerja seks komersial (PSK) akhirnya kandas. Belum sempat hohohihe, lansia asli Teguhan, Paron, itu keburu diamankan petugas Satpol PP Ngawi.

Dar diamankan dari warung esek-esek milik E di Desa Dawung, Jogorogo. Bermula saat petugas satpol PP melakukan razia menyasar tempat jualan yang diduga juga menawarkan layanan seksual. Sampai di lokasi, petugas langsung melakukan penggerebekan.

Saat itu, dari empat kamar tersedia, ada satu yang pintunya terkunci dari dalam. Setelah dibuka ternyata di dalamnya didapati Dar dan seorang perempuan yang bersiap melakukan hubungan badan. ‘’Tapi berhasil kami gagalkan,’’ kata Kasi Pembinaan, Pengawasan, dan Penyuluhan Satpol PP Ngawi Arif Setyono Jumat (26/7).

Kepada petugas, Dar mengaku pamit dari rumah hendak membeli lele. Namun, kenyataannya mampir di warung esek-esek. Sementara, Rus –PSK yang akan dikencani Dar- nekat menjajakan cinta kepada laki-laki hidung belang dengan dalih terdesak kebutuhan ekonomi. ‘’Pengakuannya ditinggal suami ke luar kota,’’ terang Arif sembari menyebut Rus mematok tarif Rp 100 ribu sekali main.

Meski begitu, petugas satpol PP tidak membawa keduanya ke kantor. Melainkan hanya melakukan pendataan serta pembinaan di tempat. ‘’Kalau lebih dari satu kali tertangkap baru kami beri sanksi lain,’’ ujarnya.

Bagaimana dengan pemilik warung? Arif menyebut, sebelumnya pernah tertangkap basah menyediakan PSK untuk ditawarkan kepada pelanggan warungnya. Kala itu, satpol PP masih memberikan toleransi dengan harapan tidak lagi menyediakan layanan prostitusi. ‘’Ternyata tetap nekat. Jika sekali lagi ketahuan (menjalankan praktik prostitusi) akan kami bawa ke ranah hukum,’’ ancamnya.

Menurut dia, tindakan E selaku pemilik warung itu melanggar Perda Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketenteraman dan Ketertiban Umum. Pada pasal 42 dan 43 aturan tersebut tertulis pihak yang memfasilitasi kegiatan prostitusi bakal dikenai hukuman maksimal tiga tahun penjara atau denda maksimal Rp 50 juta.

Arif berharap warga sekitar ikut membantu petugas dalam menegakkan perda tersebut. ‘’Kami minta pemdes juga ikut turun tangan,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button