Ngawi

Tentang Azharien Geofaninugroho, Peraih Medali Emas ASG 2019

Sukses membawa medali emas dari ASEAN School Games (ASG) 2019 di Semarang lalu. Kepiawaian Azharien Geofaninugroho sebagai atelet pencak silat tak diragukan lagi. Prestasi internasional itu dimulai dari tingkat lokal, regional, hingga nasional dengan kerja keras.

————–

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

SABUK putih kontras melingkari baju hitam. Sembari menarik dua ujung kain putih itu, kedua kakinya direnggangkan. Bak aktor laga. Pukulan, tendangan, hingga tangkisan diperagakan. Tak hanya tangan kosong. Tongkat hingga golok piawai dimainkan. ‘’Latihan pencak silat sejak kelas lima SD,’’ kata Azharien.

Dia mengenal dunia persilatan berawal delapan tahun silam. Saat itu, warga Dusun Plampohan, Desa/Kecamatan Geneng, Ngawi, itu terpukau gerakan lincah kakaknya dalam beragam jurus. Seminggu dua kali dia mulai aktif berlatih di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Jatuh bangun berlatih dilalui dengan serius. ‘’Kakak saya atlet juga, jadi ingin ikut latihan,’’ ungkapnya.

Menyelami teknik pencak silat dan meningkatkan ketahanan fisik ibarat nasi-sayur baginya. Tidak hanya di rumah. Sejak dua tahun silam, saban hari aktif berlatih di sasana atlet Widodo Putra. Latihan, berlaga dalam kejuaraan, hingga meraih medali, jadi dunia baru siswa SMAN 2 Ngawi ini. Kalungan medali emas ASG jadi kado istimewa bagi karir atletnya. ‘’Setelah ini bukan atlet remaja lagi. Jadi, ini pencapaian luar biasa,’’ tutur remaja 17 tahun ini.

Sebagai atlet pencak silat, Azharien tak hanya kerap berkalung medali. Dia juga sempat mewakili Indonesia dalam Festival Pencak Silat Internasional di Riyadh, Arab Saudi. Bersama 10 rekannya, dia menampilkan silat seni di hadapan para pejabat pemerintah setempat. Pun secara khusus mereka diundang Raja Salman. ‘’Sebelumnya juara pertama  O2SN tingkat nasional. Jadi, diminta tampil di Arab,’’ ungkap bungsu dua bersaudara pasangan Warsidi dan Eni Mujiati ini.

Cedera jadi momok bagi Azharien. Salah posisi jatuh saat bertanding di kejuaraan daerah 2018 silam mengakibatkan tangannya terkilir. Beragam kejuaraan yang diselenggarakan bersamaan membuatnya harus pandai mengatur jadwal tanding. Bulan lalu misalnya, ada kejuaraan provinsi (kejurprov). Selisih seminggu kemudian ASG. ‘’Di kejurprov modelnya tanding. Kalau dipaksakan takut cedera dan gak bisa ikut ASG. Akhirnya pilih gak ikut,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button