Madiun

Tekanan Hidup Makin Berat, Jumlah Anjal Meningkat

MADIUN – Anak jalanan (anjal) butuh perhatian serius pemkot. Data Satpol PP Kota Madiun sepanjang 2018, sebanyak  107 anjal  terjaring razia. Bahkan, terjadi lonjakan tajam pada Januari 2019. ’’Sebanyak 47 bulan Januari, kalau Februari sampai hari ini 10 orang,’’ kata Kasatpol PP Kota Madiun Sunardi Nurcahyo.

Dari ratusan anjal, sebagian warga Kota Madiun. Jumlahnya sekitar 12,5 persen. Seperti yang terjaring razia kemarin (18/2). Dari enam anjal, satu di antaranya berasal dari Kelurahan Manguharjo dengan rentang usia 13–19 tahun. Paling muda adalah bocah kelas V SD. Lainnya berasal dari Kabupaten Madiun, Ponorogo, dan Magetan. ’’Ini beban berat, karena mereka bolos sekolah dan sangat prihatin karena ditemukan bekas miras,’’ ujarnya.

Keenam anjal ditemukan satpol PP sedang nongkrong di gapura perbatasan Kota-Kabupaten Madiun Jalan Urip Sumoharjo pukul 11.30. Ketika ditemukan, di lokasi terdapat tikar, bantal, dan beberapa botol bekas minuman keras (miras). ’’Dulu di sana (tugu, Red) banyak, mulai berkurang dengan rutin razia. Sekarang kok ada lagi,’’  herannya.

Penanganan sementara, setiap anak tersebut akan dipertemukan kembali dengan orang tua. Sunardi menilai kasus kali ini tergolong unik. Lantaran salah seorang anjal perempuan yang belum jelas kependudukannya. Sehingga, satpol PP perlu  koordinasi dengan orang terdekat. ’’Dikoordinasikan dengan mbahnya atau keluarga lainnya, dinas sosial perlindungan perempuan dan anak,’’ terangnya.

Sunardi menegaskan, menangani anjal bukanlah kewenangan sepenuhnya satpol PP. Perlu kerja sama  dengan stakeholder terkait untuk menekan angka anjal di Kota Madiun. Sebab, permasalahan anjal cukup kompleks. ’’Harapan kami mereka bisa kembali dengan orang tua agar mendapatkan hak-haknya kembali,’’ ucapnya.

Kasi Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Madiun Mahmudi mengatakan bahwa menangani anjal cukup sulit. Dia mengambil contoh, tiga tahun lalu pemprov bekerja sama dengan disnos kota menggelar keterampilan untuk anjal. Hasilnya kurang maksimal. ’’Alat-alat penunjang yang diberikan untuk mereka, malah dijual,’’ ungkapnya.

Sementara, dokter spesialis kesehatan jiwa RSUD Kota Madiun dan RSUD Soedono Susiati mengatakan, permasalahan anjal tersebut dari faktor keluarga dan lingkungan. Pola asuh yang kurang pas dialami anak-anak ini sedari kecil. ’’Orang tua belum optimal dalam menjalankan peran dan kewajibannya masing-masing,’’ terangnya  saat dihubungi Jawa Pos Radar Madiun.

Data yang dihimpun wartawan koran ini, anjal tersebut  merasa nyaman dengan teman barunya lantaran merasa senasib sepenanggungan. Sebagian besar berasal dari keluarga broken home dan berujung pada penelantaran anak. Bersama teman-temannya merasa lebih diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang. Mereka mendapatkan pendapatan dari hasil mengamen dan memilih putus sekolah. Per hari ada yang mendapatkan pendapatan hingga Rp 300 ribu. Selain miras juga rawan dengan pergaulan bebas. (mg2/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close