PeristiwaPonorogo

Tebing Setinggi 12 Meter Longsor Jebol Dapur

Serupa Kejadian 2016, Penghuni Enggan Mengungsi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Bonasir sekeluarga terperanjat dari tempat tidurnya. Itu setelah mereka mendengar suara gemuruh dari samping rumah Rabu dini hari (15/1). Suara gunturan batu yang menghujani atap rumah sempat membuat Bonasir berikut empat anggota keluarganya panik.

Mata mereka semua lantas terjaga. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 02.00. Suasana di luar sedang turun hujan. Namun, rasa khawatir tetap saja belum hilang. Justru semakin membuncah. Puncaknya ketika warga Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, itu mendapati material longsor berupa tanah bercampur batu dari tebing setinggai 12 meter yang berada di samping tempat tinggalnya melorot menerjang tembok dapur.

Bonasir sekeluarga langsung menyelamatkan diri. Mereka ditolong oleh tetangganya. Diberikan tumpangan tinggal sementara. Setidaknya sampai kondisi membaik dan rumahnya diperbaiki. ‘’Setelah hujan reda, saya bersama warga lain mengecek kondisi rumah. Ternyata dapur rusak (diterjang longsor). Dindingnya jebol sampai enam meter,’’ kata Bonasir.

Sampai dengan kemarin siang, petugas BPBD masih melakukan inventarisasi kerusakan akibat longsor di pagi buta tersebut. Mereka dibantu warga dan anggota TNI/Polri bersama mengevakuasi harta benda Bonasir yang tertimbun material longsor setebal tiga meter.

Kendati sudah diberikan tumpangan tinggal sementara, namun Bonasir mengaku tetap akan bertahan di rumahnya tersebut. Dia sekeluarga enggan mengungsi. ‘’Dulu pernah longsor di lokasi yang sama sekitar tiga tahun lalu. Memang sejak saat itu (kondisi) tebing sangat miring. Tapi, sementara saya dibantu tetangga,’’ terang pria 65 tahun itu.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono mengatakan, kejadian longsor yang menyebabkan rumah Bonasir rusak dipicu tingginya intensitas hujan yang turun sejak sore sampai kemarin pagi. Kikisan air hujan lantas memicu terjadinya gerakan tanah di tebing yang berada di samping tempat tinggal korban. ‘’Kerugian materiil yang diakibatkan dari bencana tersebut sampai saat ini (kemarin siang, Red) masih dikalkulasi,’’ katanya. (naz/c1/her)

Sarankan Rumah Dikosongkan

KEENGGANAN Bonasir mengungsi dari rumahnya yang tertimpa longsor menyulitkan penanganan pascabencana. Pasalnya, tebing di samping rumah warga Munggu, Bungkal, itu masih berpotensi mengalami longsor susulan. Apalagi, materialnya tidak hanya tanah, namun juga bongkahan batu berukuran cukup besar. ‘’Lokasinya berbahaya. Rekomendasi kami, pemilik rumah sebaiknya pindah sementara waktu,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Setyo Budiono Rabu (15/1).

Longsor yang terjadi dini hari kemarin itu membuat dapur rumah Bonasir porak-poranda. Dinding jebol mencapai enam meter. Ketebalan material longsoran sekitar tiga meter. ‘’Tebing masih berbahaya jika longsoran dibersihkan karena longsoran menyangga material yang ada di tebing,’’ urainya.

Menurut Budi, karakteristik tebing di samping rumah Bonasir sangat rawan terjadi longsor. Sebab, tanahnya jenis gempur alias mudah merekah. Ketika diguyur hujan dalam kurun waktu lama, tanah menjadi lumat. Alhasil, material yang tadinya bertahan disangga tanah akhirnya ikut terjatuh.

‘’Di tebing masih ada material batu-batuan besar yang sangat membahayakan warga yang tinggal di rumah di bawahnya,’’ ujar dia. ‘’Awalnya retakan yang ada di tebing. Ini kalau terkena hujan bisa kembali merekah dan terjadi longsor,’’ imbuh Budi.

Longsor, lanjutnya, merupakan satu dari beberapa jenis bencana hidrometeorologi. Pun, dia meminta warga mewaspadainya. Apalagi, musim penghujan masih akan berlangsung setidaknya sampai Maret mendatang. ‘’Ketika intensitas hujan deras dan durasinya relatif lama, perlu diwaspadai. Lebih baik mencari tempat berlindung yang lebih aman jika di lingkungan sekitar terdapat tebing yang rawan longsor,’’ imbaunya. (naz/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close