Ngawi

Tawaran Ganti Rugi Tidak Lumrah

NGAWI – Aroma tak sedap dari angka ganti rugi proyek overpass membuat warga gerah. Akibatnya, mereka tak ambil pusing dengan segala tawaran yang diajukan. ’’Tiga kali disodori ganti rugi dengan angka yang tidak ada bedanya,’’ kata Didik Setyoko, 44, warga Desa Kedungharjo, Mantingan.

Menurut Didik, tawaran harga yang disodorkan tidak lumrah. Perincian ganti rugi bangunan dinilai bermasalah. Misalnya dalam penghitungan sumur. Ada yang dihargai Rp 2 juta. Ada yang dibayar Rp 9 juta. ‘’Kami ingin kejelasan penghitungan ganti rugi untuk lahan dan rumah kami,’’ ujarnya.

Dia menyebut, untuk overpass Kedungharjo I dan II, total yang harus menerima ganti rugi sekitar 80 kepala keluarga (KK). ’’Awal Juli lalu penyodoran terakhir yang kami tolak. Setelah itu dijanjikan ada mediasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan termasuk appraisal. Tapi sampai sekarang juga belum ada kabar lebih lanjut,’’ paparnya.

Sekadar diketahui, pihak pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam pemberitaan sebelumnya tidak menyanggah adanya pembebasan lahan yang belum klir. Namun, tidak ada penjelasan rinci terkait berapa luasan lahan yang terdampak pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan tersebut. Pihak PPK enggan menyebutkan berapa titik pembebasan yang sudah klir dan sebaliknya. Begitu pun pihak Kantor Pertanahan Ngawi yang juga terlibat dalam pembebasan lahan tersebut. ‘’Silakan koordinasi langsung dengan pihak PPK tentang itu,’’ kata Kasi Pengadaan Tanah BPN Ngawi Sukarni.

Bukan hanya Kedungharjo I dan II yang bermasalah. Untuk overpass Sidolaju I, Pelang Lor, serta Jenggrik II pun bernasib sama. Kelima overpass tersebut masih menyerupai gawang sepak bola. Hanya badan overpass-nya tanpa ada ujungnya. Pihak Jasamarga Solo-Ngawi (JSN) tak bisa berbuat banyak dengan kondisi tersendatnya pembangunan infrastruktur itu. Sementara warga terdampak justru masa bodoh. ’’Progesnya tinggal menyelesaikan perlintasan sebidang itu (overpass, Red),’’ kata staf proyek tol Ngawi–Mantingan dari JSN Prio Hartono kemarin (23/7).

Perlintasan sebidang masih tetap menjadi pilihan utama dan satu-satunya bagi warga. Beberapa titik badan jalan tol terpaksa ’’dibelah’’ sebagai tempat penyeberangan pengguna jalan. Kondisi seperti itu bakal terus berlangsung tanpa ada batas waktu yang pasti. Adapun batasannya adalah saat infrastruktur tol berupa overpass, underpass, dan penyeberangan manusia rampung 100 persen dikerjakan. ‘’Kami belum bisa menargetkan kapan selesai, lahannya saja belum bebas,’’ ujar Prio. (mg8/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close