Madiun

Tarif Rapid Test Lampaui Standar Kemenkes

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Instruksi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mematok batas tertinggi biaya rapid test mandiri sebesar Rp 150 ribu diabaikan. Masih banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang melabrak ketentuan tersebut.

Keberatan biaya tes cepat itu dikeluhkan Andriati, warga Banjarejo, Taman, Kota Madiun. Senin lalu (6/7), dia beserta suami dan ibunya menjalani rapid test sebagai syarat penerbangan ke Manado. ‘’Saya rapid test di RSI Madiun,’’ kata Andriati.

Dia mengaku per orang dipatok biaya Rp 380 ribu. Sehingga untuk tes cepat bertiga harus merogoh Rp 1,14 juta. Padahal, di hari itu terbit Surat Edaran (SE) Kemenkes HK.02.02/I/2875/2020 mengenai Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi. SE yang diteken Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Bambang Wibowo itu tertanggal 6 Juli. ‘’Beli tiket sudah mahal, belum lagi biaya rapid test. Orang di samping saya juga mengeluh, kok mahal sekali. Kalau bisa, ya diturunkan biayanya atau gratis. Pandemi ini kan banyak sekali pengeluaran, pendapatan nggak ada,’’ keluhnya.

Jawa Pos Radar Madiun telah berupaya mengonfirmasikan hal ini ke RSI Madiun. Namun, hingga kemarin belum memberikan keterangan. Sementara itu, Kepala Dinkes-KB Kota Madiun dr Agung Sulistya Wardani menegaskan terbitnya SE Kemenkes harus dijadikan standardisasi biaya rapid test. Sehingga masyarakat tidak lagi dibingungkan soal biaya tes cepat. ‘’Kalau ada SE Kemenkes, ya suatu hal yang bagus untuk standardisasi biaya,’’ kata Wardani usai menghadiri rapat di ruang 13 balai kota Rabu (8/7).

Wardani tak menampik bila sampai kini tarif rapid test masih bervariasi. Setelah turun standardisasi tarif dari pusat, kini pihaknya tak segan menegur fasilitas pelayanan kesehatan yang melanggar ketentuan. ‘’Dalam kondisi seperti ini, kalau boleh dikatakan jangan sampai dikomersialisasi. Kalau ada yang berkeluh ke kita, kita akan menegurnya,’’ ujarnya.

SE yang mengatur batasan tarif tertinggi pemeriksaan rapid test antibodi untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan pemberi layanan. SE itu juga mengatur bahwa pemeriksaan rapid test antibodi dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan. (kid/c1/fin)

Ada Tambahan Paket Konsultasi hingga Rontgen

DUA hari pasca distandardisasi, apakah biaya rapid test di kota ini tak melampaui Rp 150 ribu? Jawa Pos Radar Madiun melakukan penelusuran di beberapa fasilitas kesehatan Rabu (8/7).

Dua dari enam puskesmas yang didatangi memastikan tidak melayani rapid test mandiri. Dua puskesmas yang sama-sama di Kecamatan Taman itu hanya melayani tes cepat untuk syarat bepergian kedinasan dan lulusan siswa yang hendak ujian masuk perkuliahan. Layanan gratis itu harus disertai surat tugas dan menunjukkan identitas kependudukan asli warga Kota Madiun. ‘’Kalau pribadi adanya di rumah sakit atau klinik swasta,’’ kata salah seorang petugas kesehatan di puskesmas itu.

Namun, di puskesmas itu tertempel informasi seputar pelayanan rapid test mandiri dua rumah sakit di kota ini. Berdasarkan brosur yang tertempel di kaca jendela itu tertera beberapa besaran harga sesuai jenis paket layanan yang ditawarkan.

Paket dasar dipatok biaya Rp 350 ribu-Rp 380 ribu. Paket menengah harganya berkisar Rp 425 ribu-Rp 475 ribu. Dengan fasilitas tambahan berupa konsultasi dokter dan cek darah. Untuk paket lengkap harganya berkisar Rp 525 ribu-Rp 605 ribu yang mendapatkan tambahan fasilitas rontgen toraks. ‘’Kalau dari kami hanya bisa membuatkan surat keterangan sehat setelah melampirkan hasil rapid test mandiri itu,’’ pungkasnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close