Pacitan

Tanggul Darurat Sepanjang 100 Meter Sungai Grindulu

Usia Tanggul Darurat Tiga Bulan

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan –  Pemkab Pacitan membangun tanggul sementara Sungai Grindulu. Infrastruktur darurat di Desa Kembang, Pacitan, itu dikerjakan gotong royong melibatkan nyaris seribu warga. ‘’Sekitar 500 orang dari TNI, Polri, relawan, dan warga sekitar 400 orang,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Didik Alih Wibowo Selasa (17/12).

Didik menjelaskan, pembangunan tanggul sementara sebagai upaya mencegah air sungai meluber. Warga sekitar resah seiring datangnya musim penghujan. Meski kondisi bangunan ala kadarnya, setidaknya air sungai bisa sedikit tertahan. ‘’Antisipasi air meluber kalau turun hujan intensitas sedang sampai lebat,’’ ujarnya.

Tanggul darurat berupa material pasir di dalam karung. Membentang sepanjang 100 meter dan menumpuk setinggi 1,5 meter. Usia infrastruktur itu diprediksi hingga tiga bulan ke depan. ‘’Karena ini memang penanganan jangka pendek. Kalau panjangnya tanggul permanen,’’ terangnya.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan Diannitta Agustinawati menambahkan, tanggul darurat adalah upaya mitigasi struktural. ‘’Memperkokoh bagian yang selama ini belum maksimal,’’ katanya.

Sedangkan, Slamet Riyadi, warga sekitar, mengaku sedikit lega dengan keberadaan tanggul sementara. Kekhawatirannya terhadap banjir berkurang. ‘’Semoga tanggul permanen disegerakan,’’ harapnya. (mg2/c1/cor)

Masih Antre Air 24 Jam

SUMBER SATU-SATUNYA: Seorang warga mengambil air di sumur umum yang dimanfaatkan sejumlah warga Desa Jatigunung dan Kalikuning, Tulakan.

 

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Hujan yang mengguyur belum memutus problem kekeringan dua desa di Kecamatan Tulakan. Sejumlah warga Desa Kalikuning dan Jatigunung masih kesulitan memperoleh air bersih. ‘’Hujan turun sudah empat kali, tapi curahnya masih kecil,’’ kata Saringatun, warga Desa Kalikuning, Selasa (17/12).

Dia mengibaratkan air hujan sebatas membasahi tanah dan tanaman. Belum sampai meresap ke dalam tanah dan membuat sumber air kembali melimpah. Senyatanya, sumur warga masih mengering. ‘’Tersisa satu sumur yang sumber airnya masih ada. Itu dipakai bersama-sama dengan warga Desa Jatigunung,’’ ujarnya.

Selama 24 jam sumur umum itu tidak pernah sepi dari kehadiran warga. Saringatun rela antre demi air sebanyak dua ember kecil. Sebab, air baru kembali muncul di rentang 3,5 jam setelah habis diambil warga lainnya. ‘’Air yang didapat hanya untuk keperluan minum dan masak, bukan mandi atau mencuci,’’ tuturnya sembari menyebut sumur umum dimanfaatkan 16 kepala keluarga (KK).

Dia mengungkapkan, beberapa warga memilih membeli air ke desa tetangga. Itu karena enggan mengantre air di sumur umum. Apalagi, harganya terjangkau dengan jumlah lumayan banyak. ‘’Bisa untuk mencuci pakaian dan minum ternak,’’ ujarnya.

Sri Handayani, warga Desa Jatigunung, mengatakan bahwa bantuan air bersih ke tempat tinggalnya sangat jarang. Mau tidak mau harus mengambil air sumur. ‘’Saya antre tengah malam bergantian dengan warga lain,’’ katanya. (mg2/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close