Opini

Tambang Madu

PPKM berbasis mikro kembali diperpanjang. Instruksi Menteri Dalam Negeri terkait itu sudah turun. PPKM ini diperpanjang lagi sampai 5 April nanti. Tetapi kali ini saya tidak akan mengulas itu. Bukan karena tak peduli. Tapi karena sudah cukup sering. Hampir saat perpanjangan PPKM saya pasti mengulasnya. Toh, intinya juga sama. Bukan pelarangan. Tapi pembatasan. Sekilas membaca Inmendagri itu, sudah ada banyak pelonggaran. Termasuk pembelajaran yang sudah diperbolehkan tatap muka maupun tetap secara daring. Prinsipnya, masih PPKM tetapi dengan kebijakan yang sudah cukup longgar dengan tidak meninggalkan protokol kesehatan.

Minggu kemarin (21/3) saya bersama sejumlah kepala OPD pergi ke Desa Banjarsari Wetan, Dagangan, Kabupaten Madiun. Seperti biasa, kami ke sana sambil bersepeda. Pertama tentu kita melihat perkembangan Lapak UMKM di kelurahan. Setidaknya, kita pasti meninjau tiga lapak sekaligus setiap minggu. Kita berikan pembinaan termasuk menggali apa yang masih kurang. Mulai fisik hingga sarana promosinya. Memang saya cari kekurangannya agar lebih sempurna dan lebih bagus ke depannya. Urusan lapak selesai, gowes berlanjut ke kabupaten sebelah.

Sengaja saya ke Banjarsari Wetan itu untuk belajar. Di sana ada seorang peternak lebah. Sunardi namanya. Saya biasa memanggil beliau dengan kiai. Sebutan itu saya rasa pantas karena beliaunya memang orang berilmu. Bukan hanya ilmu agama, tapi juga ilmu kehidupan. Beliau ini selalu dekat dengan Tuhan dan alam dalam menjalani kehidupannya. Itu terlihat di kediamannya. Ada banyak hewan dan tumbuhan. Dari keduanya, pundi-pundi uang dihasilkan. Salah satunya dari madu hasil budi daya lebah.

Sering saya katakan, bahwa budi daya lebah ini sejalan dengan konsep Kota Sejuta Bunga di kota kita. Saya juga pernah mengulasnya dulu. Konsep sejuta bunga tidak hanya memberikan manfaat dari keindahannya. Tapi juga memberikan manfaat ekonomi hingga menyerap tenaga kerja. Bunga mawar yang sudah mendekati gugur bisa dipetik lalu dijual untuk keperluan ziarah makam. Pangsa pasarnya juga cukup besar. Itu bisa dilihat di Pasar Sleko setiap malam Jumat. Satu pikap bunga selalu habis terjual.

Berbicara soal tanaman, pasti butuh tenaga untuk merawatnya. Artinya, menyerap tenaga kerja. Ini baru dua manfaat. Akan lebih banyak lagi tenaga kerja yang terserap kalau manfaatnya kita tambah. Budi daya lebah madu. Bunga dan lebah memang saling membutuhkan. Lebah butuh sari bunga untuk makanan alaminya. Sementara itu, lebah membantu proses penyerbukan bunga. Dari simbiosis itu menghasilkan madu. Saya tidak perlu lagi menjelaskannya. Yang jelas, madu baik untuk kesehatan dan harganya mahal. Nilai ekonominya tinggi. Peluang pasar juga besar.

Bunga-bunga yang kita tanam di wilayah kota sudah mulai bermekaran. Sudah mulai cantik. Saatnya memetik hasilnya. Bukan hanya perkara keindahan. Tapi hasil yang lain. Madu tadi. Kota Madiun kita jadikan tambang madu. Teman-teman di OPD terkait sudah saya minta untuk menyiapkan segala sesuatunya. Termasuk belajar ke peternak langsung. Kiai Sunardi salah satunya. Di sana menjadi acuan karena memang sudah terbukti. Ada banyak lebah di sana. Saya minta saran pada beliau, apa yang cocok dengan kondisi Kota Madiun. Setidaknya ada tiga jenis. Yakni, lebah klanceng, itama, dan apis cerana.

Ketiganya memiliki keunikan masing-masing. Jenis klanceng tidak memiliki sengat. Jadi, tidak perlu takut biarpun masih bisa menggigit. Ada ciri khas pahit pada madunya. Kebetulan saya diminta mencobanya. Kalau yang itama, lebahnya besar-besar. Proses pembuatan madunya juga lebih cepat. Artinya, bisa segera panen. Kepentingan ekonomi lagi. Segera panen, segera dijual, segera menghasilkan.

Ketiga jenis lebah itu akan kita budi dayakan di Ngrowo Bening. Di sana memang kita siapkan untuk pembudidayaan dan edukasi. Siapa yang mau belajar silakan datang. Kalau masih kurang, para ahli kita datangkan. Ini kita persiapkan dari sekarang. Urusan suplai makanan sudah cukup melimpah. Ada empat hektare lahan di sana yang sudah kita tanami bunga. Belum tanaman lain. Ada ratusan pohon buah. Itu juga menjadi sumber makanan lebah.

Kota kita memang tidak banyak memiliki sumber daya alam. Tetapi bukan berarti tidak punya. Yang sedikit dan terbatas itu kita maksimalkan. Ini harus berjalan. Ini akan menjadi sumber devisa kita. Ini juga cocok dengan kultur masyarakat kita yang dominan pekerja di perusahaan. Budi daya lebah bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Lebah bisa mencari makanannya sendiri. Yang penting sarana dan prasarananya dipenuhi. Kalau semua bergerak, kota kita bisa menjadi tambang. Bukan tambang logam. Tapi kota tambang penghasil madu. (*)

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button