Pacitan

Tambang di Ngadirojo Mengandung Emas

Pertemuan Warga-PT GLI yang Difasilitasi Pemkab Buntu Lagi

‘’Kami sudah menyampaikan segala sesuatunya beserta bukti-bukti. Tapi, PT GLI tetap alot.’’ Masherli Sutarso, Kuasa Hukum Warga Desa Cokrokembang

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Masalah kerusakan lahan warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, akibat aktivitas penambangan PT Gemilang Limpah Internusa (GLI) tak berujung. Warga minta tanahnya dikeluarkan dari koordinat area penambangan. Sementara PT GLI bersikukuh dengan argumentasinya. ‘’Belum ada titik temu,’’ kata Masherli Sutarso, kuasa hukum warga Desa Cokrokembang Senin (4/11).

Sejak masalah mencuat beberapa bulan lalu, solusi tak kunjung dicapai. Beberapa kali pertemuan tidak membuahkan hasil. Termasuk pertemuan antara warga, PT GLI, dan pemerintah setempat, kemarin. PT GLI tetap tidak mau memberi ganti rugi sesuai tuntutan warga. ‘’Kami sudah menyampaikan segala sesuatunya beserta bukti-bukti. Tapi, PT GLI tetap alot,’’ ungkap Hengky, sapaan Masherli.

Dalam pertemuan kemarin, Hengky bersama warga memaparkan seluk beluk penambangan PT GLI. Disebutkan PT GLI mengeruk seluruh kandungan logam. Tidak ada pemisahan antara timah, tembaga, dan emas. Dia mengklaim aktivitas penambangan seperti itu salah. ‘’Hasil penambangan dijual dalam bentuk serbuk. Ini hasil riset kami mengenai bebatuan yang ditambang. Di sini salah mereka,’’ tudingnya.

Hengky sempat menjabarkan estimasi pendapatan PT GLI dalam pertemuan kemarin. Menurut dia, aktivitas penambangan di Desa Cokrokembang itu mengeruk 50 ton material dari perut bumi per  hari. Dari situ, lanjut dia, muncul angka Rp 11 miliar penghasilan PT GLI per hari. ‘’Kami ambil bebatuan dari lokasi penambangan seberat 10 kilogram. Kemudian dijadikan serbuk, lalu diambil sampel 50 gram. Dari situ, menghasilkan 1,6 gram logam yang tersusun dari timah, tembaga, dan emas,’’ paparnya.

Termasuk pertemuan kemarin, lima kali sudah upaya pencarian solusi masalah telah digelar. Namun, tidak satu pun menemui jalan keluar. Saking alotnya, warga pun menuntut tanahnya dikeluarkan dari koordinat area penambangan PT GLI. ‘’Biar adil. Karena, banyak investor dari luar yang siap melakukan penambangan,’’ sebut Hengky.

Hengky mengajukan 24 nama warga penerima ganti rugi dan kompensasi dampak dari aktivitas penambangan. Namun, pengajuan itu ditolak PT GLI. Mereka menyebut tidak semua nama itu warga terdampak. ‘’Sesuai aturan, PT GLI hanya memberikan ganti rugi pada lahan yang ambles. Jadi harus bisa membedakan wilayah terdampak langsung dan berpotensi terdampak dengan wilayah produksi,’’ sergah Legal Officer PT GLI Badrul Amali.

Badrul tidak ingin upaya penyelesaian masalah penambangan ini jalan di tempat. Dia menuding ada kesan pemaksaan untuk memberi ganti rugi kepada warga yang tidak terdampak langsung maupun berpotensi terdampak. ‘’Kompensasi diberikan kepada warga terdampak. Sementara yang diajukan dalam pertemuan tadi (kemarin) adalah warga yang masuk wilayah penambangan,’’ ungkapnya. (den/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button