Ngawi

Tamar Raup Keuntungan Jual Air Bersih saat Kemarau

Muhammad Tamar seolah menjadi oase bagi warga terdampak kekeringan. Menjual air bersih untuk kebutuhan sehari-hari selama kemarau.

———————— 

SUGENG DWI, Ngawi

MOBIL bak terbuka melaju pelan menyusuri jalanan kampung. Kendaraan berkelir biru itu berhenti di pinggir jalan. Sang sopir lantas keluar dan mengangkat keluar jeriken dari atas bak. Air dalam wadah itu lantas dituangkan ke jeriken milik warga yang terkumpul mejadi satu di tepi jalan. ‘’Seringnya keliling dari satu rumah ke rumah, tapi terkadang ada warga yang pesan sejak awal,’’ kata Muhammad Tamar, pedagang air keliling itu.

Tamar berkeliling desa di Kecamatan Paron dan Geneng. Dalam sehari, dia mampu menjual 200 jeriken air. Jumlahnya bisa melonjak dua kali lipat saat kemarau. Kendati tak semua warga terdampak kekeringan yang membeli. Karena keterbatasan waktu, warga Dusun Bendo, Tempuran, Paron, itu membatasi jumlah pembeli agar pengiriman tidak terlambat. ‘’Permintaan banyak, tapi waktu yang nggak ada,’’ ujarnya.

Usaha menjual air dilakoni Tamar sejak 12 tahun silam. Air itu diambil dari sumber lereng Gunung Lawu. Di awal memulai usaha, Tamar sempat keteteran karena tidak bisa memetakan waktu dan wilayah berkeliling dengan baik. ‘’Pemetaan wilayah penting agar tidak bolak-balik. Jadi, sekali keliling harus efektif dari satu desa ke desa lainnya,’’ paparnya seraya mengklaim air bisa langsung diminum tanpa harus direbus.  

Satu jeriken air ukuran 30 liter ditebus Rp 5 ribu dan Rp 4 ribu untuk 25 liter. Bagi pelanggan tetap bertahun-tahun diberi harga lebih murah. Tidak ada biaya tambahan dari jasa antarnya. ‘’Hasilnya lumayan untuk menghidupi keluarga,’’ tutur bapak satu anak tersebut. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close